Dari Ladang ke Industri: Lanskap Ekonomi Lampung di Paruh Pertama 2025

oleh
Dari Ladang ke Industri: Lanskap Ekonomi Lampung di Paruh Pertama 2025
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional II Panjang, Kota Bandar Lampung. Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Perekonomian Provinsi Lampung menunjukkan performa yang solid pada Triwulan II-2025, dengan pertumbuhan signifikan sebesar 5,09 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung pada Selasa (5/8/2025).

Angka ini menguat dibandingkan pertumbuhan pada Triwulan II-2024 yang hanya mencapai 4,80 persen.

Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Lampung tumbuh 9,33 persen, menunjukkan penguatan substansial setelah kontraksi 1,11 persen pada triwulan sebelumnya.

Untuk paruh pertama tahun 2025, atau kumulatif Semester I-2025, ekonomi Lampung tumbuh 5,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 (cumulative-to-cumulative/c-to-c).

Pada Triwulan II-2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung atas dasar harga berlaku mencapai Rp134.395,60 miliar, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp76.047,84 miliar.

Dominasi “Ladang” dan “Industri” dalam Struktur Ekonomi

Lanskap ekonomi Lampung masih kokoh berdiri di atas pilar utama sektor produksi.

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mempertahankan peranan terbesar dalam struktur PDRB Triwulan II-2025, menyumbang 28,51 persen.

Diikuti oleh Industri Pengolahan yang berkontribusi 18,52 persen, Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 14,25 persen, serta Konstruksi sebesar 9,03 persen.

Keempat lapangan usaha ini secara kolektif menyumbang lebih dari 70 persen (70,30 persen) perekonomian Lampung.

Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) tetap menjadi dominan, mencakup lebih dari separuh PDRB Lampung yaitu sebesar 62,41 persen.

Dinamika Pertumbuhan Sektor Produksi

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung didukung oleh kinerja mayoritas lapangan usaha yang positif:

1. Pertumbuhan Kuartalan (q-to-q)

Lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi motor pertumbuhan tertinggi dengan capaian 29,26 persen.

Kinerja positif juga ditunjukkan oleh Jasa Lainnya sebesar 9,95 persen dan Konstruksi sebesar 7,38 persen.

Namun, beberapa sektor masih mengalami kontraksi, antara lain Real Estat (-2,52 persen), Informasi dan Komunikasi (-1,97 persen), Jasa Pendidikan (-0,21 persen), serta Pengadaan Listrik dan Gas (-0,09 persen).

2. Pertumbuhan Tahunan (y-on-y)

Industri Pengolahan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 9,97 persen. Sektor lain yang turut tumbuh tinggi adalah Jasa Lainnya (9,18 persen), Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum (8,06 persen), serta Transportasi dan Pergudangan (7,52 persen).

Tiga lapangan usaha mengalami kontraksi pertumbuhan, yaitu Pengadaan Listrik dan Gas (-4,71 persen), Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (-1,18 persen), serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (-0,03 persen).

3. Pertumbuhan Kumulatif Semester I (c-to-c

Pada paruh pertama 2025, pertumbuhan kumulatif tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Lainnya sebesar 9,41 persen dan Industri Pengolahan sebesar 9,37 persen.

Transportasi dan Pergudangan juga tumbuh 7,85 persen, diikuti Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum (7,68 persen) serta Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor (6,91 persen).

Kontraksi masih terjadi pada Pertambangan dan Penggalian (-0,24 persen) dan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (-0,18 persen).

Kontribusi Komponen Pengeluaran

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Lampung didorong oleh berbagai komponen:

1. Pertumbuhan Kuartalan (q-to-q)

Seluruh komponen pengeluaran menunjukkan pertumbuhan positif. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) memimpin dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 16,65 persen.

Diikuti oleh Ekspor Barang dan Jasa (7,93 persen), Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,54 persen, PK-RT sebesar 4,98 persen, dan PK-LNPRT sebesar 2,44 persen.

2. Pertumbuhan Tahunan (y-on-y)

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Ekspor Barang dan Jasa sebesar 7,50 persen. Meskipun sebagian besar komponen tumbuh positif, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi sebesar 2,13 persen.

3. Pertumbuhan Kumulatif Semester I (c-to-c)

Ekspor Barang dan Jasa menjadi pendorong pertumbuhan tertinggi dengan capaian 10,06 persen. Serupa dengan proyeksi tahunan, Komponen PK-P masih mengalami kontraksi sebesar 1,88 persen.

Lampung di Panggung Regional Sumatera

Dalam konteks regional Pulau Sumatera, Lampung memberikan kontribusi signifikan sebesar 10,30 persen pada struktur perekonomian di Triwulan II-2025.

Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,09 persen (y-on-y), Provinsi Lampung menempatkan diri sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi ketiga di Pulau Sumatera, setelah Provinsi Kepulauan Riau (7,14 persen) dan Provinsi Sumatera Selatan (5,42 persen).

Secara keseluruhan, kinerja ekonomi Lampung di paruh pertama 2025 menunjukkan resiliensi dan potensi pertumbuhan yang kuat, dengan sektor pertanian dan industri pengolahan sebagai lokomotif utama, didukung oleh daya beli rumah tangga dan aktivitas ekspor yang meningkat.

Baca Juga: Pengentasan Kemiskinan di Balik Ketimpangan dan Isu IPM Lampung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *