Dekanat FEB Disoraki “Pembohong dan Pembunuh” oleh Mahasiswa Unila

oleh
Dekanat FEB Disoraki “Pembohong dan Pembunuh” oleh Mahasiswa Unila
Seratusan mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Lampung menggelar aksi solidaritas bertajuk #JusticeforPratama di kampus setempat, Selasa (3/6/2025). Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Dekanat FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) Universitas Lampung atau Unila disoraki oleh mahasiswa dengan sebutan “pembohong dan pembunuh”.

Suasana kampus Unila memanas pada Selasa (3/6/2025) siang ketika seratusan mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Lampung menggelar aksi solidaritas bertajuk #JusticeforPratama.

Mereka menuntut keadilan atas kematian rekan mereka, Pratama Wijaya Kusuma, serta mendesak birokrasi kampus untuk bersikap transparan terkait dugaan intimidasi dan pembungkaman pasca-Diksar Mahepel Unila yang diikuti Pratama dan rekannya.

Baca Juga: Duka Mendalam Ibunda Pratama Wijaya Kusuma

Aksi yang dimulai pukul 13.30 WIB ini diawali dengan long march menuju fakultas-fakultas di Unila, dengan titik fokus utama di Dekanat FEB dan Balai Rektorat Unila.

Dekanat FEB Dihadang Teriakan “Pembohong dan Pembunuh”

Di FEB Unila, massa aksi disambut langsung oleh Dekan FEB, Prof. Dr. Nairobi, yang didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB, Dr. Neli Aida.

Pertemuan ini berlangsung tegang, ketika mahasiswa secara serempak menyoraki keduanya dengan sebutan ‘Pembohong dan Pembunuh’ saat berdialog.

Mereka secara lantang menuntut penjelasan atas dugaan intimidasi dan upaya pembungkaman yang terjadi terhadap peserta Diksar Mahepel Unila.

Diksar tersebut diketahui diselenggarakan pada 10-14 November 2024 di Desa Talang Mulya, Pesawaran.

Dekanat FEB Disoraki “Pembohong dan Pembunuh” oleh Mahasiswa Unila
Dekan FEB, Prof. Dr. Nairobi, didampingi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB, Dr. Neli Aida menerima kehadiran massa aksi Aliansi Mahasiswa Universitas Lampung, Selasa (3/6/2025). Foto: Josua Napitupulu

Menanggapi tudingan tersebut, Prof. Dr. Nairobi meminta agar mahasiswa menyerahkan bukti-bukti terkait dugaan intimidasi dan pembungkaman.

“Saya minta data, apapun datanya. Terkait dengan pembungkaman, ada intimidasi, kalau memang ada bukti kirimkan. Dan sampai saat ini saya belum mendapatkan bukti,” ujar dia.

Ia menambahkan bahwa tim investigasi diharapkan dapat menyerahkan semua bukti paling lambat besok agar proses dapat berjalan cepat.

“Ini kita tunggu tim paling lambat besok pukul 08.00-15.30 WIB,” kata Prof. Nairobi.

Prof. Nairobi juga menyatakan bahwa semua bukti akan diverifikasi dalam persidangan yang melibatkan tim hukum, mahasiswa, dan kepolisian untuk membuktikan kebenarannya.

“Semua bukti itu akan dibuktikan dalam persidangan nanti. Dalam wawancara nanti tentu ada tim hukum, juga kita melibatkan mahasiswa dan kepolisian. Bohong atau tidak itu akan dibuktikan,” pungkas dia.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB Unila, Dr. Neli Aida, menyampaikan singkat bahwa pihaknya telah menyerahkan semua informasi yang ada kepada kepolisian untuk ditelusuri dan dibuktikan.

“Kami sudah menyerahkan semua ini dengan kepolisian untuk ditelusuri dan dibuktikan. Pernyataan saya cukup,” ujar dia sembari disahuti sorakan mahasiswa.

Rektorat Libatkan Polisi dan Mahasiswa dalam Investigasi

Usai beraksi di FEB Unila, massa kemudian bergeser ke Balai Rektorat Unila. Di sana, mereka diterima oleh Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, didampingi oleh Wakil Rektor III Unila, Prof. Dr. Sunyono.

Dekanat FEB Disoraki “Pembohong dan Pembunuh” oleh Mahasiswa Unila
Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, didampingi Wakil Rektor III Unila, Prof. Dr. Sunyono menemui mahasiswa yang berunjuk rasa di Balai Rektorat Unila, Selasa (3/6/2025). Foto: Josua Napitupulu

Rektor Unila muncul belakangan setelah Prof. Dr. Sunyono menyampaikan pernyataan.

Mewakili pihak Rektorat, Prof. Dr. Sunyono menjelaskan bahwa universitas telah melibatkan berbagai unsur untuk melakukan investigasi menyeluruh.

Ia menyebutkan bahwa tim kampus telah berkoordinasi dengan Polda Lampung terkait dengan dugaan kekerasan yang berakibat pada meninggalnya Pratama.

Dalam upaya mengungkap kebenaran, Prof. Sunyono juga menegaskan bahwa tim investigasi akan melibatkan perwakilan mahasiswa, mengingat kasus ini sangat berkaitan dengan mereka.

“Tadi disepakati tim akan turun bersama-sama dengan Polda Lampung. Di dalam tim ini juga, karena ini berkaitan dengan mahasiswa, tim juga melibatkan mahasiswa di dalam investigasi,” tutur dia.

Ia meminta kesabaran dari semua pihak, dan berharap hasil investigasi dapat segera diketahui dan rekomendasi tindakan yang perlu dilakukan oleh rektor maupun dekanat dapat segera dirumuskan.

“Mohon bantu saya untuk mengungkap kebenaran. Saya sepakat bahwa di perguruan tinggi tidak boleh ada kekerasan dalam bentuk apapun,” kata Prof. Sunyono.

Baginya, insiden ini adalah pelajaran terberat dan cobaan luar biasa bagi Universitas Lampung, yang diharapkan dapat menjadi momentum untuk evaluasi diri terkait seluruh kegiatan yang diselenggarakan.

Aksi mahasiswa berakhir damai setelah Rektor Unila, Prof. Dr. Lusmeilia dan Dekan FEB Unila Prof. Dr. Nairobi menandatangani pernyataan sikap yang disodorkan mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *