Ekonomi » Inefisiensi Rantai Pasok Daging Sapi Lampung Picu Lonjakan Harga

Inefisiensi Rantai Pasok Daging Sapi Lampung Picu Lonjakan Harga

oleh
Inefisiensi Rantai Pasok Daging Sapi Lampung Picu Lonjakan Harga
Data diolah dari publikasi BPS RI: Distribusi Perdagangan Komoditas Daging Sapi Indonesia 2025 (Volume 4, 2025)

DASWATI.IDBadan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan adanya inefisiensi dalam rantai pasok daging sapi di Provinsi Lampung berdasarkan hasil survei Pola Distribusi (POLDIS) dalam laporan “Distribusi Perdagangan Komoditas Daging Sapi Indonesia 2025″.

Tingginya angka Margin Perdagangan dan Pengangkutan Total (MPPT) yang mencapai 35,54% menjadi faktor utama pemicu lonjakan harga di tingkat konsumen akhir.

Angka ini sangat mencolok karena jauh melampaui rata-rata MPPT nasional yang hanya sebesar 15,66%.

Defisit Produksi di Tengah Peran Strategis

Meskipun Lampung dikenal sebagai pintu gerbang sekaligus hub distribusi daging sapi di Pulau Sumatra, provinsi ini sebenarnya mengalami defisit produksi.

Data BPS menyebutkan volume produksi Lampung hanya sebesar 15,69 ribu ton, sementara total kebutuhan konsumsi mencapai 26,03 ribu ton.

Baca Juga: Pemprov Lampung Tepis Kabar Defisit Daging Sapi

Ironisnya, meski dalam kondisi defisit, Lampung tetap memainkan peran krusial dengan memasok daging sapi ke tiga provinsi tetangga, yaitu Riau, Sumatra Selatan, dan Bengkulu.

Ketergantungan provinsi-provinsi tersebut menjadikan Lampung sentra distribusi strategis, namun sekaligus memberikan tekanan besar pada stabilitas pasokan domestik.

Rantai Distribusi Kompleks & Mahal

Penyebab utama mahalnya harga daging sapi di Lampung terletak pada kompleksitas jalur distribusinya yang melibatkan hingga enam jenis pelaku usaha yaitu distributor, subdistributor, agen, pedagang grosir, pedagang eceran, hingga supermarket atau swalayan.

BPS mencatat pola distribusi yang paling dominan di wilayah ini mengikuti jalur: Produsen → Distributor → Pedagang Eceran → Konsumen Akhir.

Inefisiensi Rantai Pasok Daging Sapi Lampung Picu Lonjakan Harga
Data diolah dari publikasi BPS RI: Distribusi Perdagangan Komoditas Daging Sapi Indonesia 2025 (Volume 4, 2025)

Dalam pola utama tersebut, margin dari produsen ke distributor tercatat sebesar 13,64%, sementara margin dari distributor ke pedagang eceran melonjak hingga 19,27%.

Bahkan, pada pola distribusi terpanjang yang melibatkan agen dan pedagang grosir, potensi MPPT dapat menyentuh angka 38,40%.

Sebaliknya, jika rantai dipangkas hanya melibatkan satu perantara (agen), MPPT dapat ditekan drastis hingga menjadi 5,61% saja.

Baca Juga: Vaksinasi & Biosekuriti: Strategi Terpadu Memutus Rantai Penularan PMK

Tertinggi di Sumatra, Masuk Lima Besar Nasional

Secara regional, Lampung memegang rekor sebagai provinsi dengan MPPT daging sapi tertinggi di Pulau Sumatra.

Sebagai perbandingan, margin di Sumatra Utara tercatat 23,67%, Riau 17,77%, dan Sumatra Selatan hanya 13,94%.

Di tingkat nasional, Lampung berada di peringkat atas dalam daftar margin distribusi terbesar, bersanding dengan Nusa Tenggara Barat (48,50%), Kalimantan Tengah (48,67%), Jawa Barat (43,19%), dan DKI Jakarta (40,56%).

Rekomendasi Optimalisasi

Menanggapi temuan ini, laporan BPS merekomendasikan pemerintah daerah untuk melakukan optimalisasi rantai distribusi dengan mendorong pola yang lebih pendek.

Selain itu, penguatan produksi lokal melalui perbaikan infrastruktur peternakan dan kualitas pakan menjadi mendesak untuk menutupi defisit.

Tata kelola yang lebih baik diperlukan agar peran Lampung sebagai pemasok antarprovinsi tidak mengorbankan stabilitas harga dan pemenuhan kebutuhan masyarakat di dalam provinsi Lampung sendiri.

Baca Juga: Distribusi Beras Lampung: Efisien, Surplus, dan Berbasis Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *