DASWATI.ID – Wapres Gibran meresmikan KNMP (Kampung Nelayan Merah Putih) Margasari di Lampung Timur untuk mendorong swasembada pangan dan menyerap aspirasi nelayan pesisir.
DALAM ARTIKEL:
Wajah-wajah semringah nelayan Desa Margasari menyambut fajar baru di pesisir Labuhan Maringgai, Jumat (8/5/2026).
Sejak pagi hari, antusiasme warga, mulai dari nelayan hingga siswa sekolah, telah memadati lokasi acara.
Kehadiran Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, untuk meresmikan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Margasari membawa harapan besar bagi transformasi kawasan pesisir yang selama ini bergulat dengan tantangan infrastruktur dan birokrasi.
Turut mendampingi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Lotharia Latif, Kepala Desa Margasari Wahyu Jaya, Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf, Pangdan XXI Radin Intan Mayjen Kristomei Sianturi, Jajaran Forkopimda Lampung Timur, dan rombongan dari Sekretariat Wakil Presiden RI.

Kunjungan kerja ini bukan sekadar seremoni peresmian fisik, melainkan menjadi ruang dialog bagi masyarakat pesisir untuk mengadukan persoalan yang telah mengakar puluhan tahun, termasuk masalah pendangkalan muara yang menghambat mobilitas kapal mereka.
Gotong Royong Menuju Swasembada
Dalam dialognya bersama para nelayan dan petambak udang, Wapres Gibran menekankan bahwa keberhasilan modernisasi ini bergantung pada sinergi semua pihak.
Ia menggarisbawahi bahwa program ini merupakan prioritas Presiden RI Prabowo Subianto demi mencapai swasembada pangan nasional.
“Program ini tidak akan berhasil kalau yang kerja cuma pemerintah, Bapak, Ibu. Kita semua harus gotong royong, ya,” ujar Wapres Gibran di hadapan warga Margasari.
Ia pun berkomitmen untuk melengkapi satu per satu kekurangan fasilitas yang ada guna meningkatkan produktivitas masyarakat.
Menghapus Hambatan Puluhan Tahun
Persoalan krusial yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah pendangkalan Muara Margasari yang telah terjadi selama hampir 30 tahun.
Kondisi ini memaksa nelayan menunggu hingga enam jam saat air surut agar kapal mereka bisa masuk kembali ke muara.
Beban nelayan kian berat karena kini mereka menggunakan armada yang lebih besar, mencapai 30 GT, dibandingkan sebelumnya yang hanya 3 hingga 5 GT.
Merespons hal itu, pemerintah berjanji akan segera mencari solusi jangka panjang melalui koordinasi dengan BNPB dan kementerian teknis untuk pengerukan muara.
Selain itu, keluhan mengenai akses solar bersubsidi dan perizinan armada juga menjadi prioritas yang akan segera ditindaklanjuti.
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menegaskan kesiapan pemerintah daerah untuk mengawal aspirasi tersebut agar implementasi di lapangan berjalan presisi.
“Pemerintah Kabupaten akan hadir sebagai jembatan yang menghubungkan aspirasi masyarakat dengan kebijakan pemerintah pusat,” tegas Ela terkait komitmennya menyederhanakan birokrasi dan mempermudah akses energi bagi nelayan.
Fasilitas Modern untuk Kesejahteraan

KNMP Margasari kini dilengkapi dengan fasilitas penunjang modern, mulai dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), gudang beku (cold storage) portabel, hingga pabrik es portabel.
Infrastruktur ini bertujuan agar hasil tangkapan nelayan, yang mencapai 42 ton per tahun, termasuk komoditas bernilai tinggi seperti lobster, tetap terjaga kualitas dan stabilitas harganya.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyampaikan optimismenya bahwa program KNMP akan menciptakan pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir Lampung.
Program tersebut diharapkan mampu memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.
“Sekaligus mendorong tumbuhnya kawasan perkampungan nelayan yang lebih modern, mandiri, dan berdaya saing,” lanjut dia.
Melalui integrasi fasilitas dan perbaikan akses jalan menuju kawasan pesisir, pemerintah berharap Desa Margasari menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh.
Langkah konkret ini menjadi pijakan penting dalam memperkuat daya saing sektor perikanan Lampung Timur menuju visi besar Indonesia Emas 2045.


