Ekonomi » Menakar Daya Saing Pelabuhan di Balik Angka Ekspor Lampung

Menakar Daya Saing Pelabuhan di Balik Angka Ekspor Lampung

oleh
Menakar Daya Saing Pelabuhan di Balik Angka Ekspor Lampung
Pelabuhan Internasional Panjang, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung. Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Surplus Lampung tembus US$332,19 juta, namun 16% ekspor masih melipir ke luar daerah. Efisiensi logistik kini jadi taruhan bagi daya saing ekonomi daerah.

Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada April 2026 mencatatkan surplus sebesar US$332,19 juta.

Meskipun performa perdagangan internasional tetap solid, tantangan efisiensi logistik membayangi daya saing ekonomi daerah akibat masih tingginya angka ekspor yang keluar melalui pintu pelabuhan di luar provinsi.

“Kondisi ini menegaskan ketangguhan aktivitas perdagangan internasional Lampung yang tetap terjaga solid di tengah dinamika global,” ujar Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel Adi Prakasa, dalam laporan resminya, Selasa (2/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa lonjakan ekspor pada April 2026 mencapai US$504,59 juta, atau tumbuh signifikan 43,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tantangan Logistik

Di balik pertumbuhan tahunan yang impresif, efisiensi distribusi barang masih menjadi catatan kritis bagi Bumi Ruwa Jurai.

Data BPS menunjukkan bahwa sepanjang Januari–April 2026, terdapat US$315,22 juta atau setara 16,72 persen komoditas ekspor Lampung yang dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi.

Sabiel Adi Prakasa menekankan pentingnya memerhatikan sebaran pelabuhan muat ini.

“Sekitar 83,28 persen atau senilai US$1.570,24 juta dilakukan melalui pelabuhan di Provinsi Lampung, namun sisanya masih mengalir ke pelabuhan provinsi tetangga,” kata Sabiel.

Hal ini menunjukkan adanya potensi pendapatan dari sektor jasa logistik yang belum terserap sepenuhnya di wilayah domestik Lampung.

Menakar Daya Saing Pelabuhan di Balik Angka Ekspor Lampung
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel AP, menyampaikan perkembangan neraca perdagangan Provinsi Lampung secara daring melalui kanal YouTube BPS Lampung, Selasa (2/6/2026). Foto: Tangkapan Layar Kanal YouTube @bpsprovlampung

Dominasi Lemak Nabati

Struktur ekspor Lampung masih bergantung kuat pada sektor perkebunan dan sumber daya alam.

Golongan Lemak dan Minyak Hewan/Nabati mendominasi dengan pangsa pasar mencapai 47,17 persen atau senilai US$889,42 juta pada periode empat bulan pertama tahun ini.

Menurut Sabiel, tiga negara tujuan utama ekspor adalah Amerika Serikat, Tiongkok, dan Pakistan.

“Komoditas utama yang diekspor ke ketiga negara terbesar tersebut seluruhnya didominasi oleh golongan lemak dan minyak hewan atau nabati,” tuturnya.

Selain lemak nabati, bahan bakar mineral serta kopi, teh, dan rempah-rempah menjadi penopang utama ekspor daerah dengan total kontribusi kumulatif yang signifikan.

Kinerja Impor Menurun

Dari sisi konsumsi dan input produksi, nilai impor kumulatif Lampung justru mengalami kontraksi tajam.

Sepanjang Januari–April 2026, nilai impor merosot 39,04 persen menjadi US$489,26 juta dibandingkan tahun sebelumnya yang menembus US$802,59 juta.

“Meskipun nilai impor pada April 2026 naik secara tahunan, secara kumulatif kita melihat adanya penurunan tajam,” ungkap Sabiel.

Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan luar negeri pada komoditas ampas industri makanan dan pupuk.

Hal ini mengindikasikan pergeseran dinamika kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri yang perlu diantisipasi lebih lanjut guna menjaga stabilitas produksi ekspor di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *