DASWATI.ID – Jembatan Perintis Garuda kini mempermudah akses warga Pringsewu. TNI dan masyarakat bersinergi mengakhiri era rakit bambu demi kemajuan ekonomi dan pendidikan.
DALAM ARTIKEL:
Deru air Sungai Way Sekampung di Dusun 3, Pekon Jogjakarta, kini tak lagi menjadi penghalang yang menakutkan bagi warga Gading Rejo, Pringsewu.
Setelah puluhan tahun bertaruh nyawa di atas rakit bambu, Jembatan Perintis Garuda kini berdiri kokoh menyatukan asa warga di kedua wilayah, Pekon Sukoharjo IV dengan Pekon Jogjakarta, Dusun 3, Kecamatan Gading Rejo, Pringsewu, Senin (9/3/2026).
Infrastruktur ini menjadi simbol berakhirnya era penyeberangan tradisional yang penuh risiko.
Akhir Penantian 46 Tahun
Sejak tahun 1980, masyarakat di kawasan ini terpaksa mengandalkan “getek” atau rakit bambu sederhana untuk mobilitas sehari-hari.
Seorang warga, Cipto Wardoyo (54), yang sehari-hari berdagang sangkar burung, mengenang betapa sulitnya akses transportasi sebelum jembatan ini ada.
“Dulu ‘nyeberangnya pakai getek dari bambu,” kenang Cipto yang kini merasa lebih aman saat melintasi sungai untuk berdagang.
Penantian panjang selama hampir setengah abad itu akhirnya terbayar dengan jembatan baja sepanjang 80 meter yang melintang gagah di atas sungai.
Sinergi TNI dan Masyarakat
Pembangunan jembatan ini merupakan hasil kolaborasi nyata antara TNI Angkatan Darat, pemerintah daerah, dan relawan.
Pangdam XXI/Raden Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, meresmikan langsung jembatan ini sebagai bagian dari program pembangunan 200 jembatan serentak di Indonesia.

Prajurit Kodim 0424/Tanggamus bersama Vertical Rescue Indonesia dan warga bahu-membahu menyelesaikan konstruksi ini hanya dalam waktu satu bulan.
“Harapannya masyarakat di kedua pekon bisa memanfaatkan jembatan ini untuk aktivitas perekonomian,” ujar Kristomei.
Memutus Rantai Keterisolasian
Kehadiran jembatan ini membawa dampak instan bagi sektor pendidikan dan ekonomi lokal yang selama ini sering lumpuh saat banjir melanda.
Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, mengungkapkan bahwa sebelumnya akses warga sering terputus total ketika debit sungai meningkat.
“Kalau banjir seperti ini nyaris tidak bisa melakukan kegiatan karena sungainya meluap,” jelas Riyanto.
Kini, para petani tidak perlu lagi memutar jauh untuk mengangkut hasil bumi atau pupuk.
Gerbang Menuju Cita-Cita
Selain mendukung sektor pertanian dan peternakan, jembatan ini menjadi jalur vital bagi anak-anak sekolah untuk meraih masa depan.
Akses yang kini jauh lebih cepat dan mudah memastikan para pelajar tidak perlu lagi khawatir akan keselamatan mereka saat menyeberang.
Riyanto Pamungkas menekankan pentingnya kemudahan ini bagi generasi muda. “Anak-anak yang sekolah juga lebih mudah aksesnya,” tuturnya.
Dengan rasa syukur yang mendalam, warga seperti Cipto Wardoyo kini bisa menatap masa depan lebih optimis, sambil berjanji akan menjaga jembatan pemberian negara tersebut agar terus memberikan manfaat bagi anak cucu mereka.
Baca Juga: Garuda di Atas Pekon Umbar: Meniti Titian Harapan Baru

