DASWATI.ID – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service (Moody’s) mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2 (layak investasi) per Februari 2026.
Namun, Moody’s memberikan catatan khusus dengan mengubah proyeksi (outlook) Indonesia dari “Stabil” menjadi “Negatif”.
Perubahan ini menjadi pengingat bagi pemerintah untuk segera memperkuat koordinasi antarlembaga dan meningkatkan penerimaan negara guna mendukung belanja prioritas.
Dikutip dari laman Kementerian Keuangan, hasil afirmasi ini merupakan tahapan akhir dari proses asesmen Moody’s setelah rangkaian kunjungan tanggal 27-29 Januari 2026 di Jakarta.
Moody’s telah melakukan diskusi dengan beberapa Kementerian/Lembaga dan otoritas, yaitu: Kemenko Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Pertumbuhan Ekonomi Lampaui Ekspektasi
Meskipun memberikan proyeksi negatif, Moody’s menilai fundamental ekonomi Indonesia masih sangat solid.
Hal ini didukung oleh realitas pertumbuhan ekonomi tahun 2025 yang mencapai 5,11 persen, bahkan pada Triwulan IV mampu menyentuh angka 5,39 persen.
Kekuatan ekonomi nasional ini ditopang oleh kekayaan sumber daya alam, struktur demografi yang menguntungkan, serta konsumsi rumah tangga yang terus meningkat.
Kebijakan fiskal dan moneter yang disiplin juga dinilai mampu menjaga inflasi dan nilai tukar tetap stabil di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Ekonomi RI 2025 Tumbuh 5,11% Ditopang Investasi & Ekspor
Sinergi Lembaga dan Penguatan Pendapatan Negara
Moody’s menyoroti pentingnya menjaga kualitas koordinasi antarkementerian dan lembaga, terutama dalam mengomunikasikan kebijakan baru kepada publik.
Selain itu, pemerintah didorong untuk memperkuat basis penerimaan negara agar program-program besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan pangan, dan pembangunan perumahan rakyat, dapat berjalan tanpa membebani anggaran secara berlebihan.
Guna mempercepat pertumbuhan, pemerintah kini mengandalkan Danantara sebagai mesin penggerak baru untuk mengelola aset dan investasi negara.
Sementara itu, APBN akan difokuskan sebagai katalis untuk meningkatkan taraf hidup rakyat secara langsung.
Komitmen OJK Jaga Stabilitas Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam siaran persnya, Jumat (6/2/2026) sore, menyambut baik kepercayaan Moody’s terhadap kapasitas kebijakan nasional dan berkomitmen memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah.
OJK akan fokus pada Program Prioritas 2026 untuk memastikan pasar keuangan tetap dipercaya oleh investor dunia.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan langkah strategis lembaga tersebut ke depan.
“Ke depan, OJK akan secara konsisten menjalankan Program Prioritas 2026 dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, serta pendalaman pasar keuangan secara terukur,” ujar dia dalam keterangannya.
Melalui komitmen koordinasi yang lebih solid dan upaya menghilangkan hambatan usaha (debottlenecking), pemerintah optimis dapat mengubah tantangan ini menjadi peluang untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat.

