Ekonomi » Sekolah Murah, Dapur “Panas”: Potret Inflasi Lampung Mei 2026

Sekolah Murah, Dapur “Panas”: Potret Inflasi Lampung Mei 2026

oleh
Sekolah Murah, Dapur "Panas": Potret Inflasi Lampung Mei 2026
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel AP, menyampaikan perkembangan inflasi di Lampung secara daring melalui kanal YouTube BPS Lampung, Selasa (2/6/2026). Foto: Tangkapan Layar Kanal YouTube @bpsprovlampung

DASWATI.ID – Harga cabai dan emas picu lonjakan inflasi Lampung sebesar 0,82% pada Mei 2026. Meski biaya sekolah turun, harga pangan tetap membebani kantong masyarakat.

Warga Provinsi Lampung menghadapi tekanan ekonomi yang kontras pada periode Mei 2026.

Di tengah merosotnya biaya pendidikan menengah, harga kebutuhan pokok di dapur justru melonjak tajam, mendorong inflasi bulanan ke level yang cukup signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatatkan inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,82 persen pada Mei 2026.

Angka ini menunjukkan peningkatan tekanan harga dibandingkan periode sebelumnya, dengan kelompok makanan sebagai motor utama penggerak indeks.

Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel Adi Prakasa, menjelaskan bahwa kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 1,56 persen.

“Kelompok ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum Lampung, yakni mencapai 0,53 persen,” ujar Sabiel dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).

Komoditas Bumbu Dapur Memanas

Lonjakan harga komoditas hortikultura menjadi pemicu utama “panasnya” harga di tingkat konsumen.

Cabai merah tercatat sebagai penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,15 persen, diikuti bawang merah (0,10 persen) dan cabai rawit (0,06 persen).

Selain bumbu dapur, kenaikan harga minyak goreng dan tomat turut memperberat beban belanja rumah tangga.

“Cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit menjadi pemicu utama di pasar selama Mei 2026,” tambah Sabiel.

Di sisi lain, tekanan inflasi ini sedikit tertahan oleh deflasi pada komoditas telur ayam ras, bawang putih, dan kangkung yang bertindak sebagai penyangga (buffer).

Selain sektor pangan, sektor transportasi juga menyumbang andil inflasi bulanan sebesar 0,10 persen akibat kenaikan harga sebesar 0,94 persen.

Sektor perumahan dan energi pun turut merangkak naik sebesar 0,63 persen.

Pendidikan Jadi Penyeimbang

Secara tahunan (year-on-year), Provinsi Lampung mencatatkan inflasi sebesar 1,94 persen dibandingkan Mei 2025.

Meski lebih tinggi dari posisi April 2026 yang hanya 0,53 persen, angka ini masih berada di bawah capaian inflasi Mei tahun lalu yang menyentuh 2,12 persen.

Menariknya, kelompok Pendidikan justru menjadi penyelamat dengan mencatatkan deflasi terdalam secara tahunan, yakni mencapai 17,97 persen.

Penurunan tarif Sekolah Menengah Atas (SMA) memberikan andil deflasi sebesar -0,84 persen, disusul Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar -0,39 persen.

“Sektor pendidikan memberikan deflasi terdalam hingga 17,97 persen, menjadi penahan utama laju inflasi tahunan di Lampung,” ungkap Sabiel.

Tanpa koreksi harga di sektor pendidikan, inflasi tahunan Lampung diprediksi akan jauh lebih tinggi mengingat kelompok pangan mencatatkan inflasi tahunan 4,89 persen.

Ketimpangan Inflasi Antardaerah

Data BPS juga menunjukkan adanya disparitas harga antarwilayah di Lampung.

Kabupaten Mesuji mencatatkan inflasi tahunan tertinggi mencapai 2,82 persen, diikuti Kota Metro sebesar 2,81 persen.

Sementara itu, Kota Bandar Lampung menjadi wilayah dengan inflasi tahunan terendah, yakni 1,79 persen.

Untuk skala bulanan, Kota Metro justru mengalami tekanan harga paling berat dengan inflasi 1,13 persen.

Sebaliknya, Kabupaten Lampung Timur dan Mesuji mencatatkan inflasi bulanan terendah di angka 0,59 persen.

Secara keseluruhan, potret ekonomi Lampung Mei 2026 menggambarkan dinamika di mana komoditas emas perhiasan, daging ayam ras, dan beras tetap menjadi penyumbang utama inflasi tahunan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *