DASWATI.ID – Universitas Lampung resmi mengukuhkan Prof. Dr. dr. Jhons Fatriyadi Suwandi, M.Kes., Sp. ParK. sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Parasitologi Epidemiologi pada Senin (26/1/2026).
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Jhons menekankan pentingnya transformasi strategi pengendalian penyakit infeksi parasit di Indonesia dari pendekatan kuratif individual menjadi pendekatan preventif yang holistik dan sistemik.
Urgensi Pendekatan Populasi
Penyakit infeksi parasit seperti malaria, cacingan (STH), dan toksoplasmosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia.
Lebih dari satu miliar penduduk dunia terinfeksi parasit, yang berdampak buruk pada status gizi, produktivitas, serta kualitas hidup.
“Pengobatan medis secara individu saja tidak cukup efektif untuk menurunkan beban penyakit ini,” jelas Prof. Jhons.
Menurut dia, parasitologi epidemiologi berperan strategis sebagai jembatan antara ilmu dasar parasitologi dengan kebijakan kesehatan masyarakat.
Pendekatan ini mengintegrasikan aspek biologis parasit dengan dinamika populasi, kondisi lingkungan, serta sistem sosial masyarakat.
Inovasi Teknologi dan Model Prediktif
1. Pemanfaatan Data Spasial
Salah satu pilar utama dalam strategi ini adalah penguatan sistem surveilans dan pemetaan risiko menggunakan sistem informasi geografis.
Analisis spasial memungkinkan identifikasi klaster atau wilayah prioritas intervensi yang sering terlewatkan oleh metode konvensional.
Integrasi data ini membantu otoritas kesehatan untuk mengambil keputusan yang lebih tepat sasaran dan efisien.
2. Pengembangan Model Prediksi
Selain pemetaan, pengembangan model prediktif berbasis statistik dan kecerdasan buatan menjadi peluang besar di masa depan.
Prof. Jhons telah mengembangkan model prediksi untuk infeksi protozoa usus pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi di Provinsi Lampung.
Variabel seperti usia, lokasi tinggal, dan hasil pemeriksaan darah dapat digunakan untuk menduga risiko infeksi hingga tingkat akurasi 99,77%.
Tantangan Perubahan Global
Strategi pengendalian ke depan menghadapi tantangan kompleks akibat perubahan iklim dan mobilitas penduduk yang tinggi.
Peningkatan suhu global berpotensi memperluas wilayah endemis malaria dan mempercepat siklus hidup vektor parasit.
Urbanisasi yang tidak terkendali juga memicu munculnya permukiman informal dengan sanitasi buruk yang menjadi sumber penularan baru.
Sebagai prasyarat utama, Prof. Jhons menegaskan perlunya penguatan diagnosis laboratorium yang memadukan metode mikroskopis klasik dengan teknik molekuler seperti qPCR.
“Ketepatan diagnosis merupakan fondasi untuk memutus rantai transmisi parasit secara efektif,” tambah dia.
Melalui pengukuhan ini, diharapkan ilmu pengetahuan dapat diimplementasikan menjadi solusi konkret bagi peningkatan kesehatan bangsa Indonesia.
Baca Juga: PiGraf: Seismograf Lokal untuk Kemandirian Energi Panas Bumi

