Pendidikan » Untaian Doa dan Lilin Keadilan untuk Pratama

Untaian Doa dan Lilin Keadilan untuk Pratama

oleh
Untaian Doa dan Lilin Keadilan untuk Pratama
Aliansi Mahasiswa FEB Menggugat menggelar aksi Seribu Lilin memperingati 40 hari kematian Pratama Wijaya Kusuma korban diksar Mahepel Universitas Lampung (Unila), Bundaran Unila, Bandar Lampung, Selasa (3/6/2025) malam. Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Ratusan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) menggelar aksi solidaritas Seribu Lilin untuk memperingati 40 hari kematian Pratama Wijaya Kusuma.

Aksi ini digelar sebagai bentuk dukungan dan pengingat bahwa suara serta kepedulian bersama dapat membawa perubahan.

“Seribu lilin ini sebagai simbolis bahwa lilin merupakan cahaya yang memang kekuatannya tidak terlalu besar, tapi ketahanannya insyaallah selalu hidup,” ujar Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa FEB Menggugat, M. Zidan Azzakri, di Bundaran Unila, Bandar Lampung, Selasa (3/6/2025) malam.

Pratama, seorang mahasiswa Bisnis Digital angkatan 2024, meninggal dunia pada 28 April 2025.

Kematiannya diduga kuat terkait dengan kekerasan yang dialaminya saat mengikuti pendidikan dasar (diksar) organisasi Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) Unila.

Diksar tersebut berlangsung di Desa Talang Mulya, Pesawaran, pada 10 hingga 14 November 2024.

Baca Juga: Duka Mendalam Ibunda Pratama Wijaya Kusuma

Untaian Doa dan Lilin Keadilan untuk Pratama
Aksi Seribu Lilin menuntut keadilan untuk Pratama Wijaya Kusuma atau #JusticeforPratama yang menjadi korban diksar Mahepel Unila, Bundaran Unila, Bandar Lampung, Selasa (3/6/2025) malam. Foto: Josua Napitupulu

Zidan menyampaikan harapan bahwa kedepannya dunia pendidikan tidak perlu selalu menggaungkan keadilan, tapi keadilan mesti ada sebagaimana mestinya, sebagaimana fitrahnya.

“Selain menyalakan lilin, aksi ini juga diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk mimbar bebas, orasi, pembacaan puisi, lantunan musik biola, dan ditutup dengan doa bersama serta tabur bunga di depan bingkai foto almarhum Pratama,” jelas dia. 

Aliansi Mahasiswa FEB Menggugat berharap proses hukum terkait kasus kematian Pratama yang sedang berjalan dapat membuahkan hasil sesuai harapan mereka.

Mereka percaya bahwa aksi ini dapat mendukung proses tersebut dan berdampak besar dalam mendorong terwujudnya keadilan bagi Pratama.

“Saat ini, kematian Pratama sedang diproses oleh pihak yang berwenang. Kita tunggu saja proses hukumnya,” tegas Zidan. 

Tim investigasi telah melibatkan mahasiswa dari BEM Unila dan BEM Fakultas.

Namun, ada kekhawatiran dari mahasiswa terkait keseriusan universitas dalam menindaklanjuti kasus ini, terutama setelah adanya keterlambatan pengiriman timeline investigasi dari pihak kampus.

“Kemarin kami baru dikirimkan timeline sesuai dengan komitmen dari pihak kampus, meskipun itu telat, tapi dari situ menumbuhkan kekhawatiran kami atas keseriusan universitas untuk menindaklanjuti kasus ini,” ungkap dia.

Untaian Doa dan Lilin Keadilan untuk Pratama
Mahasiswa menaburkan bunga di foto almarhum Pratama Wijaya Kusuma dalam Aksi Seribu Lilin di Bundaran Unila, Bandar Lampung, Selasa (3/6/2025) malam. Foto: Josua Napitupulu

Zidan menyampaikan pihak Unila menargetkan investigasi selesai hingga 22 Juni 2025 mendatang.

“Siang tadi kami kembali melanjutkan aksi kami untuk mengkonkretkan kira-kira langkah dan sikap universitas seperti apa,” tambah Zidan.

Baca Juga: Dekanat FEB Disoraki “Pembohong dan Pembunuh” oleh Mahasiswa Unila

Aliansi juga menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan media dan masyarakat Lampung yang telah menggerakkan hati untuk mengawal proses keadilan bagi Pratama.

“Semoga kegiatan ini berdampak pada apa yang akan kami tuju nantinya,” tutup Zidan.

Aksi Seribu Lilin untuk Pratama dilakukan sebagai bentuk solidaritas, dukungan, terhadap korban sebagai pengingat bahwa suara dan kepedulian bersama bisa membawa perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *