DASWATI.ID – Yayasan Mangkubumi Putra Lampung dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Nusa Indah berkolaborasi menggelar program kegiatan belajar mengajar gratis untuk Paket A (setara SD), Paket B (setara SLTP), dan Paket C (setara SLTA) Tahun Ajaran 2025/2026.
Program ini secara khusus ditujukan bagi keluarga eks narapidana terorisme (eks napiter) dan anak-anak dari lingkungan sekitar, dengan tujuan utama mengembalikan hak pendidikan mereka dan memfasilitasi integrasi penuh eks napiter menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pendidikan ini dipandang sebagai pilar fundamental dalam mengubah mindset dan memantapkan status “Hijau” atau bebas radikalisme bagi para eks napiter.
Melani Indra Dewi, dari Seksi Pemberdayaan Perempuan Yayasan Mangkubumi Putra Lampung yang juga seorang eks napiter, menjelaskan bahwa yayasan ini didirikan dan dikelola oleh eks napiter yang telah bebas serta berintegrasi ke NKRI di bawah binaan Indonesia Deradicalization Society (Idensos) Densus 88 Anti-teror Polri Wilayah Lampung.
“Dalam hal ini, kami bersama keluarga mendapatkan pembinaan secara langsung. BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) melalui Idensos terus memberikan pendampingan kepada eks napiter dan keluarganya untuk mendukung kehidupan mereka pasca-bebas,” ujar dia di Bandar Lampung, Sabtu (9/8/2025) siang.
Ia menuturkan eks napiter yang baru keluar dari lembaga pemasyarakatan umumnya berada dalam kondisi yang sangat terbatas, baik dari segi ekonomi maupun dalam menghadapi reintegrasi dengan masyarakat.
Sehingga pendampingan dari Idensos sangat berperan penting, termasuk dalam menggandeng PKBM Nusa Indah untuk program pendidikan ini.
“Karena dalam pemahaman kami yang sebelumnya, belajar di sekolah umum itu bertentangan dengan apa yang kami yakini seperti hormat bendera dan belajar Pancasila,” kata Melani.
Anak-anak ini umumnya disalurkan ke pondok pesantren dengan pendidikan yang belum berijazah formal, menyulitkan mereka untuk melanjutkan jenjang pendidikan.
Melalui kerja sama yayasan dengan PKBM Nusa Indah ini, diharapkan anak-anak dari eks napiter bisa mendapatkan lagi haknya untuk belajar, mendapatkan ijazah, dan meneruskan jenjang pendidikan.
“Ini sangat membantu kami sebagai eks napiter bahwa anak-anak kami bisa kembali lagi ke tengah masyarakat,” tambah Melani.
Deradikalisasi dan Pancasila
Melani Indra Dewi lebih lanjut menegaskan bahwa eks napiter yang tergabung dalam yayasan telah mengikuti program deradikalisasi dari Idensos dan BNPT, termasuk pembelajaran Wawasan Kebangsaan.
Program ini menandakan bahwa mereka sudah bersih dari paparan paham radikalisme yang sebelumnya, atau sudah “Hijau”.
Yayasan Mangkubumi Putra Lampung menjadi wadah untuk menegaskan bahwa para eks napiter ini telah “Hijau” atau terbebas dari paham radikalisme dan mendukung NKRI.
Ke depannya, Wawasan Kebangsaan akan diselaraskan dengan syariat Islam agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam.
“Rencananya kami juga akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait agar anak-anak ini bisa magang atau mendapatkan keahlian lainnya, tidak hanya sekolah umum saja,” harap Melani.

Namun, ia menekankan pentingnya peran orangtua eks napiter dalam proses pembelajaran anak-anak mereka.
“Kami melihat anak-anak ini sudah beranjak dewasa, tapi ternyata ada yang pendidikannya hanya sampai di Paket A (setara SD). Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Mereka harus mengejar ketertinggalannya. Paham radikalisme yang dianut oleh orangtuanya yang menyebabkan mereka tidak bisa sekolah di pendidikan formal. Mereka menutup diri,” jelas Melani.
“Tapi setelah kami melalui proses deradikalisasi dan berintegrasi ke NKRI, insyaallah sudah mulai paham dan banyak yang mengerti serta membuka diri,” pungkas dia.
Pendidikan Gratis
Ketua Yayasan Mangkubumi Putra Lampung, Suprihadi, menyatakan bahwa program pendidikan gratis ini merupakan tahun pertama.
“Kegiatan pembelajaran ini terlaksana berkat kerja sama multi-pihak, antara lain dengan Satgaswil Densus 88 Anti-teror Polri Provinsi Lampung, BIN Daerah Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, PKBM Nusa Indah, dan pihak swasta seperti PT Surya Tsabat Mandiri (STM),” kata dia.
Suprihadi mengakui tantangan utama adalah stigma dan kondisi masa lalu, serta bagaimana para eks napiter bisa berbaur dan diterima masyarakat, bahkan menjadi agen perubahan.
“Misi dari kelembagaan kami ini adalah membangun kemandirian dan kesehatan mental dan para eks napiter,” ujar dia.
Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan, edukasi, dan keterampilan kepada eks napiter.
Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi anggota dan masyarakat luas.
“Selain menjalin kerja sama dengan PKBM Nusa Indah, yayasan juga telah bekerja sama dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah Wilayah Lampung sejak tanggal 20 Mei 2025,” tutur Suprihadi.
Mereka mengadakan acara mentoring atau pendampingan kewirausahaan melalui program pertanian organik dan peternakan, serta teknologi pembuatan tepung Mocaf untuk mendukung hilirisasi pertanian di Provinsi Lampung.
Metode Pembelajaran
Kepala PKBM Nusa Indah, Purwigati, menjelaskan bahwa materi pembelajaran disesuaikan dengan kurikulum pendidikan formal.
Aspek krusial yang diutamakan adalah penanaman ideologi Pancasila demi NKRI, mengingat masih banyak di antara mereka yang belum memahami Pancasila meskipun sudah dewasa.
Metode pembelajaran bervariasi antara tatap muka, daring, dan home schooling, dengan pendekatan khusus bagi anak-anak eks napiter agar tidak mengusik masa lalu mereka dan belajar secara bertahap.
“Saya selalu memotivasi para guru karena yang berhadapan langsung dengan mereka adalah tim pengajar. Bahwa kita harus merangkul dan melakukan pendekatan, jangan usik masa lalu mereka, pembelajarannya pelan-pelan, dan tidak membeda-bedakan,” kata Purwigati.
Diawali dengan mata pelajaran yang umum seperti Bahasa Inggris, kemudian diselipkan materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
“Jadi kami melakukan pendekatan khusus terhadap anak-anak dari keluarga eks napiter. Mereka akan mengikuti pembelajaran sesuai tahun ajaran,” ujar dia.

Proses belajar mengajar di Yayasan Mangkubumi Putra Lampung sendiri berlangsung setiap hari Sabtu.
“Karena kami juga ada kerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan, Balai Pemasyarakatan, dan Dinas PPPA. Jadi, kami harus membagi waktu,” lanjut Purwigati.
Ia pun menegaskan bahwa ijazah yang diperoleh melalui pendidikan non formal memiliki manfaat yang setara dengan ijazah pendidikan formal.
Beberapa peserta PKBM Nusa Indah telah berhasil memanfaatkannya, di antaranya diterima sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada, dan bahkan ada yang melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
“Makanya saya selalu memberikan motivasi kepada mereka agar tidak pernah merasa minder atau was-was,” tutup dia.
Dukungan Penuh dari Berbagai Pihak dan Harapan Masa Depan
Komisaris PT Surya Tsabat Mandiri (STM), Erwin S., menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak terhadap kegiatan Yayasan Mangkubumi Putra Lampung.
Ia memandang bahwa ini merupakan tanggung jawab bersama agar anak-anak eks napiter dapat memperoleh pendidikan yang setara, sehingga bermanfaat bagi bangsa dan negara.
“Pendidikan ini penting dan sangat fundamental untuk mengubah mindset. Tanggung jawab sosial ini tidak hanya dipikul oleh instansi pemerintah saja, apalagi dengan anggaran yang terbatas, maka pihak swasta juga ikut bertanggung jawab,” tegas Erwin.
Sementara itu, Lurah Way Halim Permai, Syarifuddin, juga memberikan dukungan penuh sejak awal pembukaan PKBM, mulai dari penerbitan domisili dan izin lingkungan.
Meskipun sempat ada kekhawatiran dari masyarakat sekitar, Syarifuddin terus memberikan edukasi dan pemahaman kepada warga bahwa eks napiter juga merupakan bagian dari masyarakat yang harus dirangkul.
“Masyarakat juga sudah tahu bahwa anggota dan pengurus yayasan adalah eks napiter. Awalnya ada rasa khawatir, tapi saya memberikan edukasi dan pemahaman kepada warga. Saya sampaikan, mereka juga sama dengan kita, harus kita rangkul,” kata dia.
Keterlibatan para eks napiter dalam kegiatan gotong royong terbukti berhasil menyatukan mereka dengan warga, namun tetap dalam koordinasi dan pendampingan pihak terkait seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan instansi lainnya.
“Dalam setiap kegiatan gotong royong, mereka selalu kami libatkan. Setelah saya ajak bergotong royong, akhirnya menyatu, tapi tidak lepas dari pendampingan pihak terkait,” jelas Syarifuddin.
Yayasan Mangkubumi Putra Lampung berharap program pendidikan semacam ini tidak hanya terbatas di Lampung, melainkan dapat direplikasi di daerah lain untuk membantu eks napiter berbaur dengan masyarakat dan mendapatkan penerimaan.
Selain itu, mereka juga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan sarana prasarana serta kemudahan akses pendidikan bagi anak-anak eks napiter di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Spirit Moderasi Beragama di Bandar Lampung

