DASWATI.ID – Di tengah meningkatnya tantangan isu global yang mengancam kelestarian lingkungan, kondisi hutan tampil sebagai cerminan langsung dari kesehatan bumi.
Gagasan ini menjadi inti dari orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Rahmat Safe’i, S.Hut., M.Si., dalam Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung pada Rabu (17/9/2025), saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam kepakaran Kesehatan Hutan.
Dalam orasinya yang berjudul “Kesehatan Hutan: Pentingnya Pemantauan Kesehatan Ekosistem Hutan Dalam Pengelolaan Hutan Lestari”, Prof. Safe’i menekankan bahwa memantau “wajah” hutan adalah langkah krusial untuk mewujudkan pengelolaan yang berkelanjutan.
Menurut Prof. Safe’i, makna kesehatan hutan telah berkembang melampaui sekadar manajemen hama dan penyakit.
Kini, kesehatan hutan dipandang dari dua perspektif utama: utilitarian yang berfokus pada tujuan pengelolaan, dan ekologi yang menekankan pada pertahanan struktur serta proses alam.
Hutan yang sehat adalah hutan yang mampu mempertahankan fungsi utamanya—baik sebagai fungsi produksi, lindung, maupun konservasi—sambil beradaptasi terhadap perubahan lingkungan tanpa kehilangan potensi jangka panjangnya.
“Kondisi kesehatan ekosistem hutan menjadi sangat penting di seluruh dunia, ketika berbagai isu global, seperti perubahan iklim, pencemaran udara, kebakaran hutan, hingga peningkatan populasi manusia, telah memengaruhi terwujudnya pengelolaan hutan yang lestari,” ungkap Prof. Safe’i dalam orasinya.
Ia juga menyoroti bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan hutan di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung, masih kurang mendapat perhatian serius.
Metode Ilmiah untuk “Membaca” Wajah Hutan
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, diperkenalkan sebuah metode ilmiah yang disebut Pemantauan Kesehatan Hutan (Forest Health Monitoring/FHM).
Metode ini dirancang untuk memantau, menilai, dan melaporkan kondisi hutan secara komprehensif, mencakup status saat ini, perubahan (change), dan tren jangka panjang (trend).
FHM menggunakan empat indikator ekologis utama yang terukur untuk “membaca” kesehatan hutan, yaitu:
- Produktivitas: Diukur dari pertumbuhan pohon, seperti penambahan diameter;
- Vitalitas: Dinilai dari kondisi kerusakan pohon dan kesehatan tajuknya;
- Biodiversitas: Dilihat dari keanekaragaman jenis pohon yang ada di dalam ekosistem;
- Kualitas Tapak: Ditentukan melalui analisis kesuburan tanah.
Proses pemantauan ini dilakukan secara berkala di lokasi-lokasi plot ukur yang disebut klaster-plot.
Sejak 2013 hingga 2024, sebanyak 738 klaster-plot FHM telah dibangun di Provinsi Lampung, tersebar di berbagai tipe hutan seperti hutan rakyat, konservasi, lindung, dan mangrove.
Potret Kesehatan Hutan Lampung dari Data Lapangan
Penerapan metode FHM di Provinsi Lampung telah menghasilkan potret nyata kondisi hutan. Beberapa temuan penting yang diungkapkan antara lain:
1. Kondisi Kebun Raya
Terdapat perbedaan signifikan antara dua kebun raya di Lampung. Kebun Raya Liwa menunjukkan peningkatan kesehatan, sementara Kebun Raya ITERA (Institut Teknologi Sumatera) mengalami penurunan.
Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pengelolaan yang lebih matang di Kebun Raya Liwa berdampak positif pada kesehatan ekosistemnya.
2. Hutan Berdasarkan Fungsi
Penilaian pada hutan produksi, lindung, dan konservasi menunjukkan adanya kategori kesehatan “baik” dan “buruk” yang dipengaruhi oleh tingkat tekanan pemanfaatan langsung oleh masyarakat.
3. Ekosistem Mangrove
Kondisi kesehatan hutan mangrove di Pesisir Timur Kabupaten Lampung Timur sebagian besar berada dalam kategori “sedang”.
Meskipun demikian, sempat terjadi penurunan kategori dari “bagus” menjadi “sedang” di salah satu lokasi akibat peningkatan kerusakan pohon dan tajuk.
Data-data ini menegaskan bahwa pemantauan kesehatan hutan mampu menyediakan informasi yang efektif dan dapat dipercaya sebagai landasan bagi para pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan manajemen yang tepat.
Inovasi Teknologi untuk Masa Depan Hutan
Untuk mempermudah dan mempercepat proses pemantauan, telah dikembangkan berbagai teknologi informasi.
Prof. Safe’i memperkenalkan dua inovasi utama:
1. Sistem Informasi Penilaian Kesehatan Hutan (SIPUT): Sebuah sistem berbasis web yang membantu menganalisis dan mengevaluasi data hasil pemantauan di lapangan.
2. DgT Diagnosis: Aplikasi mobile yang dirancang untuk mendeteksi dan mengidentifikasi tipe kerusakan pada pohon menggunakan gambar. Aplikasi ini didukung oleh teknologi Convolutional Neural Network (CNN), sebuah algoritma visi komputer canggih.
Pada akhir orasinya, Prof. Safe’i menegaskan bahwa hutan yang sehat dapat memberikan manfaat lingkungan yang vital, mulai dari penyediaan air bersih, pencegahan erosi, hingga pengaturan siklus air dan cuaca.
Dengan demikian, pemantauan kesehatan hutan bukan hanya sekadar kegiatan ilmiah, melainkan sebuah upaya strategis untuk memastikan belantara tetap menjadi cermin dari bumi yang sehat dan lestari bagi generasi mendatang.
Baca Juga: Meramu Hara, Menuai Berkah: Prof. Darwin Pangaribuan Tawarkan Solusi Pertanian Berkelanjutan

