Nasional » Groundbreaking Besar-besaran: Februari 2026, Aksi Nyata Hilirisasi Dimulai

Groundbreaking Besar-besaran: Februari 2026, Aksi Nyata Hilirisasi Dimulai

oleh
Groundbreaking Besar-besaran: Februari 2026, Aksi Nyata Hilirisasi Dimulai
Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) menerima Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani (kiri) di Hambalang, Bogor, Minggu (4/1/2026) sore. Foto: Istimewa

DASWATI.ID – Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto serius mengawali tahun 2026 dengan aksi nyata percepatan program strategis nasional.

Komitmen itu ditunjukkan dalam pertemuan Presiden dengan Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, di Kediaman Pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, pada Minggu (4/1/2026) sore.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan resmi menyampaikan bahwa pertemuan tersebut membahas tiga agenda utama.

Poin pertama sekaligus yang terpenting adalah perkembangan lima titik proyek hilirisasi yang akan segera dilakukan groundbreaking pada awal Februari 2026.

“Program tersebut akan dilakukan di beberapa provinsi Indonesia dengan total investasi sebesar USD6 miliar atau sekitar Rp100 triliun,” tegas Teddy dikutip dari laman resmi Sekretariat Kabinet.

Selain itu, juga dibahas perkembangan proyek Waste to Energy yang fokus pada penertiban pengelolaan sampah untuk memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi.

Pertemuan ini melanjutkan komitmen yang sebelumnya telah diumumkan oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani.

Pada pertengahan Desember 2025, Rosan telah membeberkan rencana pembangunan 18 proyek hilirisasi di bawah koordinasi Danantara, dengan 5-6 proyek di antaranya akan memulai tahap konstruksi pada awal Januari 2026.

“Pertama ada Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), aluminium smelter. Kemudian bioavtur refinery di Cilacap, dan bioetanol di Banyuwangi,” jelas Rosan saat itu di Kompleks Istana Kepresidenan.

Namun, pelaksanaan groundbreaking kemudian disepakati untuk dilakukan secara bertahap, dimulai pada awal tahun 2026.

Peta 18 Mega Proyek Hilirisasi Nasional

Keseluruhan program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah mencakup 18 proyek strategis dengan diversifikasi bahan baku yang sangat luas.

Total nilai investasi dari seluruh proyek ini mencapai Rp638,852 triliun dan diperkirakan mampu menyerap 304.236 tenaga kerja, menjadi mesin penggerak ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang signifikan.

Berikut adalah daftar lengkap ke-18 proyek hilirisasi berdasarkan klaster bahan baku dan jenis industri:

1. HILIRISASI BAUKSIT & ALUMINIUM

· Proyek 1: Industri Smelter Aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.

· Nilai Investasi: Rp60 triliun

· Tenaga Kerja: 14.700 orang

· Proyek 2: Industri Chemical Grade Alumina (CGA) di Kendawangan, Kalimantan Barat.

· Nilai Investasi: Rp17,3 triliun

· Tenaga Kerja: 7.100 orang

· Proyek 3: Modul Surya Terintegrasi (Bauksit dan Silika) di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah.

· Nilai Investasi: Rp24 triliun

· Tenaga Kerja: 19.500 orang

2. HILIRISASI NIKEL & BESI BAJA

· Proyek 4: Industri Stainless Steel Slab di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah.

· Nilai Investasi: Rp38,4 triliun

· Tenaga Kerja: 12.000 orang

· Proyek 5: Industri Besi Baja (dari Pasir Besi) di Kabupaten Sarmi, Papua.

· Nilai Investasi: Rp19 triliun

· Tenaga Kerja: 18.000 orang

3. HILIRISASI MINERAL LAIN & GARAM

· Proyek 6: Industri Mangan Sulfat di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

· Nilai Investasi: Rp3,05 triliun

· Tenaga Kerja: 5.224 orang

· Proyek 7: Industri Copper Rod, Wire & Tube di Gresik, Jawa Timur.

· Nilai Investasi: Rp19,2 triliun

· Tenaga Kerja: 9.700 orang

· Proyek 8: Industrial Chlor Alkali Plant (Garam) di Aceh, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Riau, Banten, dan Nusa Tenggara Timur.

· Nilai Investasi: Rp16 triliun

· Tenaga Kerja: 33.000 orang

· Proyek 9: Industri Aspal (Aspal Buton) di Buton, Sulawesi Tenggara.

· Nilai Investasi: Rp1,49 triliun

· Tenaga Kerja: 3.450 orang

4. HILIRISASI BATU BARA

· Proyek 10: Industri DME (Dimethyl Ether) di enam lokasi: Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Pali, dan Banyuasin.

· Nilai Investasi: Rp164 triliun

· Tenaga Kerja: 34.800 orang

5. HILIRISASI MINYAK BUMI & INFRASTRUKTURNYA

· Proyek 11: Oil Refinery di 18 lokasi (Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung/Bali, Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak).

· Nilai Investasi: Rp160 triliun

· Tenaga Kerja: 44.000 orang

· Proyek 12: Oil Storage Tanks di 18 lokasi (sama dengan proyek refinery).

· Nilai Investasi: Rp72 triliun

· Tenaga Kerja: 6.960 orang

6. HILIRISASI PRODUK PERKEBUNAN/AGRIKULTUR

· Proyek 13: Industri Oleofood (Kelapa Sawit) di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan Timur (MBTK).

· Nilai Investasi: Rp3 triliun

· Tenaga Kerja: 4.800 orang

· Proyek 14: Industri Nata de Coco, MCT, Coconut Flour, Activated Carbon (Kelapa) di Kawasan Industri Tayan, Riau.

· Nilai Investasi: Rp2,3 triliun

· Tenaga Kerja: 22.100 orang

· Proyek 15: Industri Carrageenan (Rumput Laut) di Kupang, NTT.

· Nilai Investasi: Rp212 miliar

· Tenaga Kerja: 1.700 orang

· Proyek 16: Industri Oleoresins (Pala) di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

· Nilai Investasi: Rp1,8 triliun

· Tenaga Kerja: 1.850 orang

7. HILIRISASI PRODUK PERIKANAN

· Proyek 17: Industri Fillet Tilapia di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

· Nilai Investasi: Rp1 triliun

· Tenaga Kerja: 27.600 orang

8. HILIRISASI LIMBAH/PRODUK SAMPING MENJADI ENERGI

· Proyek 18: Industri Bioavtur (dari Used Cooking Oil / Minyak Jelantah) di KBN Maranda, Cikarang, dan Karawang.

· Nilai Investasi: Rp16 triliun

· Tenaga Kerja: 10.152 orang

Pertemuan di Hambalang dan rencana groundbreaking yang sudah di depan mata menegaskan komitmen pemerintahan Prabowo Subianto untuk tidak hanya menggaungkan wacana, tetapi segera melaksanakan transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.

Program hilirisasi masif yang tersebar dari Sabang sampai Merauke ini diharapkan menjadi fondasi kokoh untuk ekonomi Indonesia yang lebih berdaulat, mandiri, berkelanjutan, dan inklusif di masa depan.

Baca Juga: Peluang Emas Investasi di Lampung: Dari Hilirisasi Pertanian hingga Green Hydrogen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *