DASWATI.ID – Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Lampung menggelar kunjungan silaturahmi ke kantor Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Lampung pada Senin (19/1/2026) siang.
Pertemuan ini dilakukan untuk mempererat persaudaraan sekaligus menyelaraskan persepsi dalam menjaga harmoni di wilayah “Bumi Ruwa Jurai”.
Dirbinmas Polda Lampung, Kombes Pol. AF Indra Napitupulu, SIK, yang didampingi Wadir Binmas AKBP A. Rahman Napitupulu, S.H., disambut langsung oleh Ketua FKUB Lampung, Prof. Dr. H. M. Bahruddin, M.A.
Dialog yang berlangsung cair dan penuh kekeluargaan ini menjadi ruang diskusi “dari hati ke hati” mengenai stabilitas sosial di Lampung.
Baca Juga: Spirit Moderasi Beragama di Bandar Lampung
Mengelola Potensi Konflik di “Indonesia Mini”
Pengurus FKUB Lampung dari unsur Muhammadiyah, Mansur Hidayat, menegaskan bahwa Lampung merupakan potret “Indonesia Mini” yang memiliki potensi konflik sosial cukup tinggi.
“Potensi konflik sosial di Lampung, secara teoritis, memang tinggi karena Lampung ini “Indonesia Mini” penduduknya sangat beragam,” kata dia dalam pertemuan.
Namun, keberagaman tersebut selama ini berhasil dikelola melalui kearifan lokal serta edukasi dan sosialisasi yang konsisten oleh FKUB.
“FKUB telah melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mempertahankan kearifan itu dengan berbagai macam pendekatan,” jelas Mansur.
Ia mengungkapkan bahwa banyak konflik yang muncul di permukaan sering kali ditarik ke ranah agama, padahal akar masalah sebenarnya bersifat faktual, situasional, dan psikologis.
“Seperti di Lampung Selatan (Konflik Balinuraga 2012), kalau ditelisik lebih jauh, itu faktor agama sebenarnya tidak ada,” lanjut Mansur.
Kemudian sengketa ekonomi dan lahan di wilayah Tulang Bawang serta Mesuji (Register 45) sebagai pemicu utama.
“Sengketa ekonomi dan lahan menjadi pemicu utama. Konflik ini melibatkan masyarakat setempat, pendatang, hingga korporasi,” tutur dia.
Menurut Mansur, ketimpangan akses, di mana korporasi dianggap memiliki hak istimewa (privilege) atas lahan luas sementara masyarakat lokal kekurangan lahan garapan, menjadi isu sentral yang harus dikelola dengan bijak.

Membentengi Generasi Muda dari Ujaran Kebencian
Sebagai upaya regenerasi kerukunan, Prof. Bahruddin menuturkan rencana pembentukan wadah khusus pemuda lintas agama.
Langkah ini krusial untuk memitigasi maraknya ujaran kebencian (hate speech) di era digital yang kerap dianggap biasa oleh anak muda.
“Ke depan, FKUB Lampung akan membentuk forum khusus pemuda lintas agama untuk regenerasi menjaga kerukunan,” ujar Bahruddin.
Meski secara institusi baru akan dikukuhkan setelah pengurus FKUB yang baru dilantik, kegiatan kolaborasi seperti pentas musik dan kemah pemuda antaragama sudah mulai berjalan di lapangan.
“Kondisi toleransi di Lampung sendiri saat ini telah berjalan harmonis melalui aksi nyata di hari besar keagamaan,” kata Bahruddin.
Hal ini terlihat dari partisipasi umat Hindu yang menjaga salat Ied Idulfitri, serta umat Muslim bersama Pecalang yang menjaga perayaan Catur Brata Penyepian.
Selain itu, aksi saling jaga juga dilakukan saat ibadah Natal di gereja maupun kegiatan keagamaan di vihara.
“Semua ini tidak terlepas dari dukungan Polda Lampung. Mudah-mudahan kedepannya bisa dipertahankan dan ditingkatkan agar indeks kerukunan menjadi lebih baik lagi,” tutup Bahruddin.
Dirbinmas Polda Lampung, Indra Napitupulu, menyambut baik pembentukan forum pemuda lintas agama yang digagas oleh FKUB Lampung.
Langkah ini bertujuan untuk memperkuat edukasi mengenai keberagaman dan toleransi guna menjaga situasi wilayah tetap kondusif.
Indra menegaskan bahwa sinergi antarelemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk mendukung tugas kepolisian dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
“Saya mendapatkan amanah melakukan pembinaan masyarakat. Kami sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk menjaga Kamtibmas,” ujar dia.
Ia pun mengapresiasi keharmonisan antarumat beragama di Lampung yang telah terjalin dengan baik.
Sebagai pejabat baru, ia berkomitmen untuk terus merawat kondisi tersebut melalui kolaborasi erat dengan FKUB, terutama dalam mengelola isu-isu agama yang bersifat sensitif dan berdampak luas.
Selain mendukung kegiatan kepemudaan, Indra juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan serta berbagi informasi demi menjaga kerukunan di Lampung.
“Tinggal saya meneruskan untuk merawat kondusivitas tersebut bersama-sama dengan FKUB,” pungkas dia.
Kunjungan ini menegaskan komitmen Polri dan tokoh lintas agama untuk terus bersinergi melalui komunikasi yang aktif.
Hal ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam merawat keberagaman dan kedamaian di Provinsi Lampung.

