DASWATI.ID – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago menginstruksikan penguatan kewaspadaan ruang siber nasional guna menghadapi dinamika geopolitik global.
Hal tersebut ditegaskan dalam Rapat Internal Staf (RIS) di kantor Kemenko Polkam, Jakarta, pada Senin (26/1/2026).
Djamari mengakui bahwa ruang siber Indonesia saat ini masih sangat terbuka sehingga rentan terhadap kekuatan siber asing.
Ia meminta seluruh jajaran untuk mempertajam institusi dan intuisi dalam mendeteksi ancaman yang masuk.
“Kita harus disiplin dalam prosedur penggunaan komputer dan sistem informasi yang kita miliki saat ini,” ujar Djamari dalam keterangannya pada Selasa (27/1/2026).
Ia menekankan agar seluruh pegawai membiasakan diri mengikuti prosedur keamanan perangkat elektronik, baik untuk kepentingan dinas maupun pribadi, demi mencegah kebocoran data.
Modus Operandi Perang Siber Global
Dalam rapat tersebut, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letnan Jenderal TNI (Purn) Nugroho Sulistyo Budi memaparkan tren perang siber yang terjadi di Ukraina, Rusia, Venezuela, dan Iran.
Nugroho menjelaskan bahwa media sering kali menjadi sarana utama dalam perang siber untuk mencapai tujuan politik tertentu.
“Tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan delegitimasi pemerintahan dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat sehingga mendorong terjadinya revolusi,” ungkap Nugroho.
Sebagai langkah konkret, Presiden RI telah menginstruksikan BSSN untuk membentuk Tim Tanggap Insiden Siber.
Tim ini diposisikan sebagai garda terdepan dalam melakukan deteksi dini, respons cepat, dan mitigasi terhadap setiap insiden siber yang muncul.
Rapat strategis ini turut dihadiri oleh Wakil Menko Polkam Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F. Paulus, Sesmenko Polkam Mochammad Hasan, serta sejumlah pejabat utama dari Kemenko Polkam dan BSSN.
Baca Juga: Presiden Prabowo Optimistis BoP Charter Trump Bawa Damai di Gaza

