DASWATI.ID – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Makodam XXI/Radin Inten, Kota Bandar Lampung, pada Selasa (27/1/2026) sore saat ratusan prajurit TNI berbaris rapi menundukkan kepala.
Mereka memanjatkan doa dan menunaikan salat gaib sebagai bentuk solidaritas mendalam atas tragedi tanah longsor yang menimpa rekan sejawat di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Jumat (23/1/2026) lalu.
Doa-doa tersebut dipanjatkan khusus bagi para prajurit Batalyon Infanteri 9 Marinir Beruang Hitam yang menjadi korban saat sedang menjalani latihan persiapan pengamanan perbatasan Indonesia, Papua Nugini.
Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud empati TNI, sembari memastikan dukungan penuh bagi keluarga yang ditinggalkan.
“TNI akan selalu hadir untuk membantu masyarakat dan keluarga korban, baik dalam penanganan darurat maupun pemulihan pascabencana,” tegas Kristomei.
Duka di Liang Lahat Sang Prajurit
Duka paling mendalam dirasakan di Desa Kibang, Lampung Timur, saat jenazah Prajurit Kepala (Praka) M Kori tiba pada Senin (26/1/2026) sore.
Kori adalah satu dari empat prajurit yang ditemukan gugur, sementara 19 rekan lainnya masih dinyatakan hilang dalam pencarian.
Isak tangis keluarga pecah saat tembakan penghormatan dari personel TNI AL mengiringi penurunan jenazah ke liang lahat.
Kepergian Kori meninggalkan lubang besar bagi keluarganya; ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan yang masih balita.
Samrah, ibu almarhum, mengenang putranya sebagai sosok penyayang dan tulang punggung keluarga yang tetap membiayai orang tua serta adik-adiknya meski sudah berkeluarga.
“Sedih sekali, semalaman enggak bisa tidur sekeluarga,” ungkap Samrah dengan nada getir, meski ia mencoba ikhlas melepas anaknya yang gugur dalam tugas latihan tersebut.
Ironi Sebelum Tugas Perbatasan
Tragedi ini menjadi memilukan karena puluhan prajurit tersebut direncanakan berangkat untuk menjaga kedaulatan negara di perbatasan RI-Papua Nugini.
Namun, sebelum sempat menginjakkan kaki di medan tugas, longsor menerjang lokasi bermukim mereka setelah hujan lebat mengguyur selama dua malam berturut-turut.
Kepala Staf TNI AL, Laksamana Muhammad Ali, menjelaskan bahwa musibah ini juga berdampak pada pemukiman penduduk di sekitar lokasi latihan.
Secara geologis, wilayah Cisarua memang memiliki kerentanan tinggi terhadap pergerakan tanah.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memaparkan bahwa interaksi antara karakteristik batuan gunung api tua yang lapuk, lereng yang curam, serta sistem drainase yang belum memadai menjadi pemicu utama bencana ini.
Kini, di tengah upaya pemulihan pascabencana, doa-doa terus mengalir agar para prajurit yang gugur mendapat tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.
Baca Juga: Menko Polkam Waspadai Perang Siber yang Picu Delegitimasi Pemerintah

