DASWATI.ID – Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, memperkuat langkah strategis untuk membawa komoditas kakao asal Lampung ke pasar internasional melalui kerja sama dengan PT Olam Indonesia dan Pemerintah Inggris.
Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan hilirisasi kakao berbasis agroforestri di lahan perhutanan sosial guna meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Baca Juga: Uni Eropa Sahkan Aturan Produk Bebas Deforestasi untuk 7 Komoditas
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari diskusi bersama tim Partnership for Forests (P4F) dari Pemerintah Inggris dan PT Olam Indonesia yang berlangsung di Bandar Lampung pada Selasa (27/1/2026).
Pertemuan tersebut digelar setelah tim melakukan peninjauan lapangan (site visit) di empat kabupaten, yaitu Lampung Timur, Pesawaran, Lampung Tengah, dan Tanggamus.
Target 35 Ribu Hektare Lahan Perhutanan Sosial
Wagub Jihan Nurlela menyatakan bahwa kerja sama ini telah memiliki landasan kuat melalui nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS) yang bertujuan meningkatkan kualitas budidaya petani.
Berdasarkan hasil observasi lapangan, kualitas kakao yang dihasilkan petani Lampung dinilai sangat baik dan siap masuk dalam rantai pasok global.
“Kami hari ini membersamai PT Olam melakukan site visit di beberapa daerah yang sudah disepakati dalam MoU terkait hilirisasi kakao,” ujar Jihan.
Proyek besar ini direncanakan mencakup sekitar 35.000 hektare lahan perhutanan sosial dengan melibatkan 18.000 petani lokal.
Baca Juga: Geliat Perkebunan Rakyat Lampung, Tulang Punggung Ekonomi Hijau
Model Agroforestri untuk Keseimbangan Ekologi
Pemerintah Provinsi Lampung bersama mitra strategis mendorong transisi sistem pertanian dari monokultur menuju agroforestri yang lebih berkelanjutan.
Pendekatan ini dinilai mampu menjaga keseimbangan antara nilai ekonomi bagi petani dan fungsi ekologis hutan.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung menegaskan bahwa program ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Lampung karena sejalan dengan visi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
PT Olam, melalui Direktur PT Olam Food Ingredients (OFI) Indonesia, Imam Suharto, menyatakan bahwa model pendampingan serupa telah berhasil dijalankan sejak 2015 dan kini siap diperluas ke sektor perhutanan sosial Lampung.
Baca Juga: Inggris Dukung Pemulihan Way Kambas, Bupati Lamtim Beri Apresiasi
Jadi Percontohan Global pada Maret 2026
Kerja sama ini tidak hanya melibatkan sektor swasta dan pemerintah daerah, tetapi juga mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO).
Proyek hilirisasi kakao di Lampung ini diharapkan dapat menjadi percontohan global dalam pengelolaan komoditas yang berkelanjutan.
Imam Suharto menambahkan bahwa PT Olam memiliki visi yang sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan multi-komoditas di lahan perhutanan sosial.
Target implementasi program ini dijadwalkan mulai berjalan paling lambat pada Maret 2026, setelah seluruh tahapan persiapan dan kesepakatan teknis dengan pemerintah daerah rampung diselesaikan.
Baca Juga: Smallholders vs EUDR: The Future of Lampung’s Green Economy

