Lampung » Saat Data Jadi Kompas Stabilitas

Saat Data Jadi Kompas Stabilitas

oleh
Saat Data Jadi Kompas Stabilitas
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memimpin High Level Meeting TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung, Selasa (10/2/2026). Foto: Istimewa

DASWATI.IDGubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) menginstruksikan seluruh jajarannya untuk menjadikan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai kompas utama dalam mengendalikan inflasi daerah.

Penegasan ini agar setiap intervensi pemerintah memiliki alat ukur yang jelas dan tepat sasaran dalam menjaga stabilitas ekonomi.

“Semua data ini harus diperkuat oleh BPS agar kebijakan TPID berdiri di atas fakta. Kadang-kadang kami bekerja membuat kebijakan, tapi tidak disertai data BPS. Jadi tidak ada alat ukur,” ujar Mirza. 

Hal itu disampaikan saat memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung, Selasa (10/2/2026).

Gubernur Mirza menyoroti tantangan krusial dalam menjaga titik keseimbangan antara keuntungan petani dan daya beli masyarakat.

Ia memperingatkan bahwa deflasi yang terlalu dalam dapat memukul kesejahteraan petani, sementara inflasi yang tinggi akan membebani rakyat secara luas.

“Sebagai pemerintah, kami harus bisa melihat keseimbangan. Kami ingin produksi pertanian menguntungkan petani, tetapi harga di masyarakat juga harus stabil,” kata Mirza.

Sebagai solusi konkret, ia menginstruksikan agar kebutuhan komoditas pangan, seperti cabai dan bawang, wajib dipenuhi dari hasil produksi lokal kabupaten di Lampung sebelum memutuskan untuk mendatangkan pasokan dari luar daerah.

Digitalisasi Lawan Penimbunan Pangan

Selain fokus pada produksi, Gubernur mendorong pemanfaatan teknologi dan digitalisasi untuk memantau pergerakan harga pasar secara real-time.

Langkah ini diambil agar pemerintah dapat memberikan respons cepat terhadap gejolak harga di lapangan.

Mirza juga meminta pengawasan distribusi diperketat guna mencegah praktik penimbunan yang merugikan warga.

Sinergi dengan Perum Bulog (Badan Urusan Logistik) akan diperkuat melalui operasi pasar dan pasar murah yang digelar secara selektif.

“Pastikan distribusinya sampai ke masyarakat berjalan dengan kontrol. Jangan sampai ada penimbunan atau permainan harga,” perintahnya kepada dinas terkait.

Di akhir arahannya, Gubernur Mirza mengapresiasi capaian ekonomi Lampung yang saat ini menunjukkan tren positif.

Meski di tengah tantangan global, Lampung berhasil menjaga tingkat inflasi tetap rendah dan terkendali dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Ia berharap kolaborasi antarinstansi ini terus terjaga agar daya beli masyarakat tidak terganggu.

“Ekonomi kita tumbuh, masyarakat belanjanya juga murah. Ini harus kita pertahankan,” pungkas Gubernur Mirza.

Baca Juga: Laju Ekonomi Lampung 2025 di Tangga Ketiga Sumatra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *