DASWATI.ID – Pemerintah Jepang membuka peluang besar bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia, untuk mengisi kebutuhan di sektor konstruksi.
Direktur Jenderal pada Sekretariat Kabinet Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata (MLIT) Jepang, Masakuni Hirashima, menyatakan pihaknya menargetkan penerimaan sekitar 80.000 pekerja asing hingga Maret 2029 melalui sistem specified skilled worker (SSW) atau tenaga kerja terampil.
Pernyataan tersebut disampaikan Hirashima dalam agenda Sosialisasi Peluang Kerja Sektor Konstruksi di GSG SMAN 2 Bandar Lampung, Kamis (12/2/2026).
Acara ini turut dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi PMI KP2MI, Abri Danar Prabawa.
Baca Juga: Restorasi Lampung: Kirim Pemuda ke Jepang, Pulang Bawa Perubahan
Hirashima menjelaskan bahwa meskipun sektor konstruksi memegang peranan vital bagi kehidupan dan perekonomian masyarakat Jepang, kondisi penuaan usia para pekerja di negara tersebut telah menjadi masalah yang mendesak.
“Dalam kondisi dan situasi yang sulit ini, para pekerja konstruksi dari Indonesia yang berjumlah sekitar 5.000 jiwa telah datang dan beraktivitas di Jepang dengan baik,” ujar dia di hadapan ratusan siswa SMA/SMK se-Kota Bandar Lampung.
Ia menegaskan bahwa penggunaan tenaga kerja asing kini menjadi hal yang tidak dapat dihindari oleh Pemerintah Jepang.
Jaminan Upah dan Pengembangan Karier
Untuk memastikan penerimaan pekerja berjalan dengan tepat, MLIT Jepang menerapkan standar khusus di luar standar industri umum.
Hal ini mencakup penetapan kuota tertentu serta pemberlakuan sistem upah bulanan yang sesuai bagi para pekerja migran.
Selain itu, Jepang telah membangun sistem pengembangan karier konstruksi untuk menyesuaikan kualifikasi pekerja asing agar ditempatkan pada bidang yang tepat.
“Kami memastikan pekerja diperlakukan dengan benar berdasarkan seluruh data yang telah kami kumpulkan,” tambah Hirashima.
Modernisasi Lingkungan Kerja melalui Teknologi
Guna menunjang kenyamanan pekerja, Pemerintah Jepang terus mengembangkan lingkungan kerja yang aman dan modern melalui teknologi otomatisasi dan digitalisasi yang disebut High Construction 2.0.
Langkah ini dibarengi dengan reformasi gaya bekerja yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Melalui sosialisasi ini, Hirashima berharap informasi yang diberikan dapat menjadi daya tarik serta memberikan kemudahan akses bagi calon pekerja migran asal Indonesia yang berminat meniti karier di Jepang.
“MLIT Jepang akan terus mempertahankan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan mempunyai rasa kebanggaan,” pungkas dia.

