Juru Masak SPPG: Garda Terdepan Ekonomi Kreatif Kuliner Lampung

oleh
Juru Masak SPPG: Garda Terdepan Ekonomi Kreatif Kuliner Lampung
Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya didampingi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau SPPG Rajabasa 3 Kota Bandar Lampung, Minggu (15/2/2026). Dokumentasi Kementerian Ekonomi Kreatif

DASWATI.IDKementerian Ekonomi Kreatif memosisikan juru masak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai garda terdepan dalam menjaga kualitas program makan bergizi gratis (MBG).

Hal itu ditegaskan melalui kegiatan MASAMO (Masak Bersama Master Chef) yang digelar di SPPG Rajabasa 3, Kota Bandar Lampung, Minggu (15/2/2026).

Di tangan para juru masak SPPG ini, program MBG bertransformasi menjadi mesin penggerak ekonomi baru, sekaligus memperkuat ekosistem kuliner lokal.

Sebanyak 50 juru masak SPPG menjalani pelatihan intensif dari standar keamanan pangan, higienitas personal, hingga teknik memasak sehat berbasis prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Pelatihan ini tidak hanya mengejar pemenuhan nutrisi, tetapi juga memastikan profesionalisme pengelolaan dapur komunitas.

Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa kompetensi juru masak adalah fondasi utama keberhasilan program MBG.

“Program MBG bukan hanya tentang pemenuhan gizi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Penguatan kapasitas juru masak menjadi kunci agar kualitas, standar kebersihan, dan nilai gizi yang ditetapkan dapat terjaga secara konsisten di seluruh Indonesia,” ujar Teuku Riefky didampingi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Sinergi Industri dan Ekonomi Lokal

Program MASAMO menjadi wadah kolaborasi multipihak yang melibatkan Pemerintah Provinsi Lampung, Badan Gizi Nasional (BGN), hingga industri perlengkapan dapur nasional.

Langkah ini mendorong keterlibatan industri kreatif dalam meningkatkan standar kuliner nasional yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Secara nasional, program MBG menargetkan jangkauan hingga 83 juta penerima manfaat melalui lebih dari 30.600 unit SPPG pada tahun 2026.

Skala besar ini menjadikan subsektor kuliner sebagai salah satu prioritas dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang ada.

Sinergi ini menghidupkan rantai pasok lokal, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga jasa distribusi di tingkat desa.

Baca Juga: BGN: Pastikan Hasil Panen Petani Terserap MBG

Kuliner Mesin Pertumbuhan Baru

Teuku Riefky menyampaikan Kementerian Ekonomi Kreatif kini menyiapkan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (RINDEKRAF) untuk 20 tahun ke depan, yang memperluas cakupan subsektor kreatif dari 17 menjadi 21 subsektor kreatif.

Pemerintah saat ini fokus melakukan hilirisasi di sektor kreatif untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal agar berdaya saing global.

Ia menjelaskan bahwa hilirisasi bukan hanya milik sektor pertambangan.

“Di sektor kreatif, hilirisasi berarti memperkuat film, musik, fashion, dan kuliner lokal agar memiliki nilai tambah dan daya saing global,” pungkas Teuku Riefky.

Melalui penguatan SDM seperti juru masak SPPG, ekonomi kreatif diharapkan menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Lampung Model Keberhasilan Nasional

Provinsi Lampung mencatatkan prestasi sebagai daerah tercepat dalam pemenuhan infrastruktur dapur MBG, dengan rasio pengadaan di atas 100 persen dari target.

Dengan dukungan sumber daya pangan yang surplus, seperti beras, daging ayam, telur, dan sayuran, Lampung menjadi model ideal kolaborasi ekonomi kreatif.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal (Mirza), mengingatkan bahwa aspek rasa memegang peranan krusial bagi penerima manfaat.

“Anak-anak itu nomor dua gizi, nomor satu enak dulu. Kalau tidak enak, mereka tidak mau makan. Saya ingin mereka lulus sekolah dengan kenangan bahwa makanan MBG itu enak dan membanggakan,” pesan Mirza.

Baca Juga: Geliat Bisnis MBG di Lampung: dari Ruko hingga Showroom Jadi SPPG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *