DASWATI.ID – Indonesia memproyeksikan kenaikan produksi kakao 0,07% per tahun, namun lonjakan impor 18% menuntut perbaikan rantai pasok industri domestik.
DALAM ARTIKEL:
Indonesia memegang peranan vital sebagai produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.
Komoditas ini bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan penyedia lapangan kerja dan sumber devisa negara yang strategis bagi ekonomi nasional.
Keunggulan geografis dengan iklim tropis mendukung pertumbuhan biji kakao berkualitas tinggi yang memiliki karakteristik unik, seperti titik leleh tinggi yang sangat dicari industri kosmetik dan makanan internasional.
Petani Sebagai Ujung Tombak
Sektor hulu kakao Indonesia hampir sepenuhnya bersandar pada pundak petani kecil.
Data menunjukkan bahwa 98,88% lahan kakao dikelola oleh Perkebunan Rakyat (PR), sementara sisanya hanya sebagian kecil dikelola oleh negara (0,34%) dan swasta (0,77%).
Pada tahun 2025, luas areal perkebunan kakao diperkirakan mencapai 1,37 juta hektar dengan proyeksi produksi sebesar 630,59 ribu ton.
Sulawesi tetap menjadi jantung produksi kakao nasional. Provinsi Sulawesi Tengah menyumbang kontribusi terbesar yakni 19,92%, disusul oleh Sulawesi Tenggara (16,09%) dan Sulawesi Selatan (12,62%).
Meski menjadi basis utama, luas lahan kakao secara nasional mengalami tren penurunan rata-rata 2,50% per tahun selama satu dekade terakhir karena adanya alih fungsi lahan dan penggantian komoditas oleh petani.

Pengolahan dan Tantangan Mutu
Setelah panen, mata rantai berlanjut pada proses pasca-panen yang menentukan harga jual.
Pemerintah terus mendorong petani untuk melakukan fermentasi biji kakao agar memenuhi standar industri pengolahan.
Biji kakao fermentasi memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan non-fermentasi.
Pada tahun 2024, harga kakao fermentasi di tingkat produsen mencapai Rp84.770/kg, sedangkan harga non-fermentasi berada di angka Rp72.907/kg.
Sayangnya, banyak petani masih enggan melakukan fermentasi karena prosesnya yang memakan waktu lebih lama.
Hal ini menciptakan tantangan dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku untuk industri domestik.
Padahal, kualitas biji yang baik sangat penting untuk meningkatkan nilai tawar kakao Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat terkait isu keberlanjutan dan standar mutu.

Paradoks Impor di Negeri Produsen
Kondisi rantai pasok Indonesia saat ini menghadapi situasi paradoks yang cukup serius.
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyoroti nilai impor kakao yang masih sangat tinggi, yakni mencapai Rp18,7 triliun meskipun Indonesia adalah produsen besar.
Industri pengolahan domestik sering kali lebih memilih mengimpor biji kakao untuk memenuhi kebutuhan bahan baku mereka.
Data tahun 2024 mengungkap bahwa 75,22% produk kakao yang diimpor Indonesia adalah dalam bentuk biji mentah yang bernilai US$1,09 miliar.
Kesenjangan ini terjadi karena utilisasi pabrik pengolahan kakao nasional hanya berkisar sekitar 50%.
Tingginya angka impor ini menjadi sinyal bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperbaiki distribusi hasil panen dari petani lokal ke pabrik pengolahan dalam negeri agar ketergantungan terhadap luar negeri bisa berkurang.
Menembus Pasar Internasional
Di sisi hilir, Indonesia telah berhasil bertransformasi dari sekadar pengekspor biji mentah menjadi pengekspor produk olahan bernilai tambah.
Ekspor kakao Indonesia tahun 2024 didominasi oleh mentega, lemak, dan minyak kakao sebesar 64,25%, disusul oleh bubuk kakao (17,39%) dan pasta kakao (12,28%).
Nilai total ekspor kakao pada tahun 2024 melonjak signifikan hingga mencapai US$2,62 miliar akibat kenaikan harga kakao dunia.
Pasar global menyerap produk olahan Indonesia dengan sangat baik. India menjadi tujuan ekspor utama dengan pangsa pasar 17,99%, diikuti oleh Amerika Serikat (15,72%) dan Malaysia (9,80%).
Diplomasi perdagangan melalui kerja sama seperti IEU-CEPA terus diupayakan pemerintah untuk menurunkan tarif masuk di daratan Eropa, sehingga akses pasar bagi produk olahan kakao Indonesia semakin terbuka lebar.
Proyeksi Masa Depan Kakao
Melihat ke depan, ketersediaan kakao domestik Indonesia untuk periode 2025-2028 diprediksi tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 0,61% per tahun.
Meskipun produksi diproyeksikan hanya naik tipis sekitar 0,07% per tahun, tantangan sesungguhnya adalah meningkatkan produktivitas lahan yang sempat menurun.
Langkah konkret seperti penggunaan benih unggul, adopsi teknologi modern, dan penerapan praktik pertanian yang baik (GAP) sangat diperlukan agar kesejahteraan petani tetap terjaga.
Upaya perbaikan menyeluruh dari hulu hingga hilir sangat krusial untuk mempertahankan posisi Indonesia di pasar dunia.
Dengan penguatan rantai pasok yang optimal, kakao bukan hanya akan mengharumkan nama Indonesia di pasar global, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi yang menyejahterakan jutaan petani di pelosok negeri. (*)
*Sumber Data: Buku Outlook Komoditas Perkebunan Kakao 2025–Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian



