DASWATI.ID – UNIFIL menjaga perdamaian di Lebanon sejak 1978. Misi ini memantau gencatan senjata dan mendukung kedaulatan negara untuk menjaga stabilitas di sepanjang Blue Line.
DALAM ARTIKEL:
Pasukan Indonesia pertama kali masuk ke UNIFIL dalam skala besar pada tahun 2006, pasca perang 34 hari antara Israel dan Hizbullah berdasarkan Resolusi DK PBB 1701.
Pasukan ini dikenal dengan sebutan Kontingen Garuda (Konga), dengan unit terbesarnya adalah Batalyon Mekanis (Indobatt).
Indonesia bergabung dalam Maritime Task Force (MTF) UNIFIL pada tahun 2009 dengan mengirimkan KRI Diponegoro-365.
Sejak saat itu, Indonesia menjadi salah satu kontributor kapal perang yang paling konsisten dalam menjaga keamanan perairan Lebanon hingga misi tersebut berakhir pada Februari 2026.
Menjaga perdamaian di wilayah konflik bukanlah tugas yang ringan.
Selama puluhan tahun, pasukan helm biru PBB yang tergabung dalam UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) terus berjaga di Lebanon Selatan demi mencegah pertikaian lebih lanjut.
Kehadiran mereka menjadi pilar penting bagi stabilitas di kawasan Timur Tengah yang penuh tantangan.
Sejarah dan Dasar Pembentukan

Perjalanan misi ini bermula pada Maret 1978. Saat itu, Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 425 dan 426 untuk merespons situasi di Lebanon.
Keputusan ini menetapkan tiga tujuan utama: memastikan penarikan pasukan Israel, memulihkan perdamaian internasional, dan membantu Pemerintah Lebanon mengembalikan otoritasnya.
Seiring berjalannya waktu, stabilitas di perbatasan tetap menjadi tantangan besar.
Dinamika politik dan militer yang dinamis memaksa PBB untuk terus menyesuaikan peran pasukan perdamaian ini di lapangan.
Penguatan Mandat Lewat Resolusi 1701
Perubahan besar terjadi setelah konflik bersenjata pada Juli dan Agustus 2006.
Dewan Keamanan PBB memutuskan untuk memperkuat mandat misi ini melalui Resolusi 1701.
Langkah ini memberikan wewenang tambahan bagi UNIFIL untuk melakukan tugas-tugas yang lebih luas dan strategis.
Melalui resolusi tersebut, UNIFIL kini memantau penghentian permusuhan secara aktif.
Mereka juga mendampingi Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) saat melakukan pengerahan pasukan ke wilayah selatan.
Transformasi ini bertujuan agar tidak ada lagi kekuatan bersenjata ilegal yang beroperasi di sepanjang perbatasan.
Tugas Operasional di Lapangan

Saat ini, UNIFIL menjalankan fungsi koordinasi yang sangat krusial antara pihak-pihak yang bertikai, Israel dan Lebanon.
Mereka mengoperasikan markas besarnya yang berlokasi di Naqoura, Lebanon Selatan.
Dari titik inilah, seluruh pergerakan dan pemantauan di sepanjang “Blue Line” atau garis penarikan pasukan dikendalikan.
Selain tugas militer, pasukan ini juga mengemban misi kemanusiaan yang penting.
Mereka membantu memastikan penduduk sipil mendapatkan akses bantuan serta mendukung kepulangan pengungsi secara aman dan sukarela.
Hal ini membuktikan bahwa peran UNIFIL mencakup perlindungan bagi warga terdampak perang.
Pentingnya Koordinasi dan Stabilitas
Keberhasilan misi ini sangat bergantung pada kerja sama dengan Pemerintah Lebanon dan Israel.
UNIFIL bertindak sebagai jembatan komunikasi untuk mencegah kesalahpahaman yang bisa memicu konflik baru.
Dengan pengawasan yang ketat, risiko eskalasi militer dapat diminimalisir secara efektif.
Hingga saat ini, UNIFIL tetap menjadi simbol komitmen internasional bagi kedaulatan Lebanon
Meski tantangan di lapangan terus berganti, kehadiran pasukan perdamaian ini sangat dibutuhkan untuk menjaga ketenangan di wilayah perbatasan. (*)
*Sumber: United Nations Peacekeeping


