DASWATI.ID – Lampung mencetak surplus US$389,33 juta pada Februari 2026. Anjloknya impor mesin dan bahan baku hingga 63,69% mendorong surplus di tengah penurunan nilai ekspor.
DALAM ARTIKEL:
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat kinerja positif pada neraca perdagangan luar negeri periode Februari 2026.
Provinsi Lampung berhasil membukukan surplus sebesar US$389,33 juta.
Capaian ini terjadi karena nilai ekspor yang mencapai US$492,31 juta jauh melampaui nilai impor yang hanya sebesar US$102,98 juta.
Ekspor Tetap Dominan Meski Turun Tipis
Nilai ekspor Lampung pada Februari 2026 tercatat sebesar US$492,31 juta, atau mengalami penurunan sebesar 4,95 persen dibandingkan Februari 2025 yang bernilai US$517,93 juta.
“Jika melihat data kumulatif sepanjang Januari–Februari 2026, total ekspor menyentuh angka US$992,45 juta, turun tipis 0,30 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$995,48 juta,” ujar Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel Adie Prakasa, dalam keterangannya pada Rabu (1/4/2026).

Dari sisi logistik, pelabuhan di Provinsi Lampung masih menjadi jalur utama dengan melayani 83,64 persen atau senilai US$830,12 juta dari total ekspor kumulatif.
Sementara itu, US$162,33 juta (16,36 persen) sisanya dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi.
Tiongkok menjadi negara tujuan utama dengan nilai US$162,64 juta (16,39 persen), disusul Amerika Serikat US$126,01 juta (12,70 persen), dan Pakistan US$114,98 juta (11,58 persen).
Komoditas unggulan Lampung masih didominasi oleh Lemak dan Minyak Hewan/Nabati senilai US$482,76 juta (48,64 persen), Kopi, Teh, dan Rempah-Rempah US$141,57 juta (14,27 persen), serta Bahan Bakar Mineral US$103,97 juta (10,48 persen).
Impor Mesin dan Bahan Baku Turun Drastis
Di sisi lain, nilai impor Lampung pada Februari 2026 justru anjlok signifikan sebesar 63,69 persen secara tahunan menjadi US$102,98 juta.
Secara kumulatif, nilai impor Januari–Februari 2026 mencapai US$191,65 juta, merosot 63,35 persen dibandingkan tahun 2025 yang sempat menyentuh US$522,88 juta.
Penurunan ini terlihat dari berkurangnya pasokan barang modal dan bahan baku dari negara mitra.

Tiongkok tetap menjadi asal impor terbesar senilai US$28,25 juta (14,74 persen) dengan barang utama berupa mesin dan peralatan mekanis.
Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar US$22,81 juta (11,90 persen) untuk komoditas biji dan buah mengandung minyak, serta Saudi Arabia US$21,98 juta (11,47 persen) untuk Bahan Bakar Mineral.
Secara keseluruhan, tiga komoditas impor utama Lampung adalah Ampas/Sisa Industri Makanan senilai US$44,60 juta (23,27 persen), Bahan Bakar Mineral US$28,87 juta (15,06 persen), dan Pupuk US$25,50 juta (13,31 persen).
Ketahanan Kinerja Perdagangan Luar Negeri
Meskipun nilai surplus Februari 2026 ini sedikit lebih rendah daripada Januari 2026 yang mencapai US$411,47 juta, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan realisasi pada bulan yang sama tahun lalu.
“Neraca perdagangan luar negeri Lampung Februari 2026 surplus sebesar US$389,33 juta,” kata Sabiel.
Tren positif ini mencerminkan ketahanan kinerja perdagangan luar negeri Lampung di awal tahun 2026 meskipun di tengah penurunan aktivitas impor barang modal dan bahan industri.



