DASWATI.ID – Sejumlah wilayah di Indonesia menghadapi krisis serius akibat dampak bencana hidrometeorologi, baik yang basah maupun kering, dalam periode Rabu (10/9/2025) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (11/9/2025) pukul 07.00 WIB.
Data terkini yang dirangkum oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai lokasi, mencatat ribuan keluarga terdampak, dengan total 14 jiwa meninggal dunia dan 2 lainnya dinyatakan hilang.
Bencana hidrometeorologi basah, yang meliputi banjir dan tanah longsor, melanda beberapa provinsi.
Di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, banjir menerjang pada Rabu malam (10/9/2025) pukul 20.55 WIB, di enam kecamatan yaitu Pesisir Tengah, Way Krui, Krui Selatan, Karya Penggawa, Lemong, dan Suoh.
BPBD setempat melaporkan 304 Kepala Keluarga (KK) terdampak, dengan 246 KK mengungsi di Kecamatan Pesisir Tengah, 38 KK di Krui Selatan, dan 20 KK di Karya Penggawa. Ratusan rumah terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi dari 15 sentimeter hingga tiga meter.
Curah hujan tinggi pada Senin (8/9/2025) sebelumnya menyebabkan sungai-sungai meluap dan membanjiri permukiman.
Kepala Pelaksana BPBD Pesisir Barat, Imam Habibbudin, memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, meskipun aktivitas masyarakat terganggu dan beberapa warga terpaksa dievakuasi.
Bahkan, area parkiran basement perkantoran Pemkab Pesisir Barat turut terendam banjir hingga tiga meter, mengakibatkan tujuh kendaraan terendam.
Selain banjir, cuaca ekstrem juga memicu tanah longsor di Pekon Labuhan Mandi, Kecamatan Way Krui, yang merusak satu rumah warga, serta pohon tumbang di Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong. Kedua kejadian ini menghambat akses lalu lintas.
BPBD Pesisir Barat dan tim gabungan terus melakukan penanganan darurat, termasuk penyedotan air dan pemantauan intensif.
Situasi yang lebih memprihatinkan terjadi di Provinsi Bali, di mana bencana hidrometeorologi basah masih terus berdampak hingga Kamis (11/9/2025).
Tujuh wilayah kabupaten dan kota terdampak banjir dan tanah longsor, yakni Jembrana, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem, Klungkung, dan Kota Denpasar.
Dampak paling tragis adalah 16 korban meninggal dunia dan satu orang dilaporkan hilang. Selain itu, 214 KK atau 659 orang juga terdampak.

BPBD setempat bersama petugas gabungan terus mengupayakan penanganan darurat, termasuk pencarian korban hilang, pengendalian longsor, dan penanganan genangan air. BNPB telah memberikan bantuan serta pendampingan dalam penanganan krisis ini.
Di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, banjir bandang menerjang pada Rabu (10/9/2025) pukul 02.30 Wita, menyusul hujan intensitas tinggi yang menyebabkan debit air Sungai Kalbir meluap.
Peristiwa ini berdampak pada Desa Emang Lestari dan Suka Maju di Kecamatan Lunyuk, dengan 250 KK atau 786 jiwa terdampak. Kerugian material meliputi 250 unit rumah dan satu akses jalan.
BPBD Kabupaten Sumbawa telah melakukan pelaporan, penyebaran informasi, serta kaji cepat. Kondisi banjir dilaporkan mulai surut pada Kamis (11/9/2025).
Sementara itu, di Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah, banjir yang terjadi pada Rabu (10/9/2025) pukul 10.55 WIB, masih belum surut hingga Kamis (11/9/2025).
Banjir di Kecamatan Seruyan Hulu ini telah berdampak pada 95 KK, serta merusak 72 unit rumah dan satu jembatan.
Selain bencana hidrometeorologi basah, kekeringan juga menjadi ancaman nyata.
Di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, kekeringan telah berdampak pada lima kecamatan, yakni Kuripan, Gerung, Lembar, Sekotong, dan Batu Layar.
Sebanyak 7.475 KK atau 22.821 jiwa terdampak fenomena ini. BPBD Kabupaten Lombok Barat bersama petugas gabungan terus melakukan penanganan darurat, berkoordinasi dengan BMKG untuk perkembangan cuaca, melakukan kaji cepat, serta mendistribusikan air bersih.
Hingga Rabu (10/9/2025), total distribusi air bersih yang telah dilakukan sejak tanggal 7 Agustus 2025 mencapai 224.000 liter.
BNPB secara konsisten membantu dan mendukung pemerintah daerah dalam upaya penanganan darurat bencana agar berjalan cepat, terpadu, dan terkoordinasi.
Selain bencana hidrometeorologi basah, BNPB juga memastikan penanganan bencana hidrometeorologi kering, seperti kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan, berjalan optimal.
Dalam menghadapi potensi bencana lebih lanjut, BNPB mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kewaspadaan dan kesiapsiagaan, memantau informasi resmi pemerintah secara berkesinambungan, dan mengikuti arahan pemerintah daerah.
Baca Juga: KKI Kecam Dugaan Pemukulan Dokter Anestesi di Semarang

