BGN: Pastikan Hasil Panen Petani Terserap MBG

oleh
BGN: Pastikan Hasil Panen Petani Terserap MBG
Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol. (Purn) Sony Sonjaya (tengah depan) dalam Rapat Konsolidasi Program Makan Bergizi Gratis Bersama Kepala SPPG, Mitra, dan Yayasan se-Provinsi Lampung di Ballroom Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (14/2/2026). Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.IDBadan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar upaya pemenuhan nutrisi, melainkan motor penggerak ekonomi kerakyatan.

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol. (Purn) Sony Sonjaya, menyatakan program ini menjamin seluruh hasil produksi pangan lokal terserap oleh pasar melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sony menjelaskan bahwa kehadiran SPPG di berbagai wilayah menciptakan rantai pasok yang melibatkan petani, peternak, pekebun, hingga pembudidaya ikan.

Bahan pangan tersebut nantinya disalurkan melalui UMKM, BUMDes, dan koperasi menuju dapur gizi.

Strategi ini diharapkan dapat mengakhiri persoalan klasik petani yang seringkali terpaksa membuang hasil panen akibat tidak terserap pasar.

“Jadi tidak ada lagi cerita hasil panen petani yang tidak terserap pasar dibuang karena tidak laku,” tegas Sony dalam Rapat Konsolidasi Program MBG di Ballroom Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (14/2/2026). 

Meluruskan Kiblat Makan Bergizi Gratis di Lampung
Distribusi anggaran program MBG di 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung per tanggal 14 Februari 2026

Efek Pengganda bagi Ekonomi Kerakyatan

Program strategis ini diproyeksikan memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap sirkular ekonomi di tingkat akar rumput.

Secara nasional, MBG ditargetkan mampu menyerap sekitar 1,1 juta tenaga kerja yang akan bertugas di 23.470 unit SPPG di seluruh Indonesia.

Di Provinsi Lampung sendiri, tercatat sudah ada 1.007 SPPG yang siap beroperasi untuk melayani kebutuhan gizi masyarakat.

Sony menambahkan bahwa keberhasilan program ini dalam 13 bulan terakhir telah menjangkau 60 juta penerima manfaat secara nasional.

Angka ini menunjukkan akselerasi yang pesat dibandingkan negara-negara lain yang telah lebih dulu menjalankan program serupa.

Prioritas Kelompok Rentan demi Indonesia Emas

Selain dampak ekonomi, Sony mengingatkan pentingnya meluruskan pemahaman mengenai target sasaran program.

Ia menekankan bahwa prioritas utama bukan hanya siswa sekolah, melainkan kelompok rentan yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) guna menjaga kualitas gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan.

“Tolong mindset kita samakan bahwa yang harus diberi makan bergizi ini adalah kelompok rentan 3B. Ini yang diutamakan,” ujar Sony. 

Menurutnya, intervensi gizi sejak janin hingga balita adalah kunci utama dalam mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045.

Melalui konsep School Meal Plus, Indonesia juga menjadi pelopor program makan gratis yang diantarkan langsung ke rumah bagi ibu hamil dan menyusui melalui kader puskesmas.

Baca Juga: Lampung Fokus Kualitas dan Perluasan MBG ke Wilayah 3T

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *