DASWATI.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan dinamika harga yang unik pada pembukaan tahun 2026.
Meskipun harga berbagai komoditas pangan di pasar cenderung melandai, tarif listrik justru muncul sebagai pemicu utama (biang kerok) kenaikan harga secara tahunan di Bumi Ruwa Jurai.
Baca Juga: Lampung Perkuat Ekosistem Transportasi Hijau
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel, dalam laporannya menyampaikan bahwa secara bulanan (month-to-month), Provinsi Lampung sebenarnya mengalami deflasi sebesar 0,07% pada Januari 2026.
Penurunan harga ini didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang andil deflasi sebesar 0,21%.
Masyarakat sempat menikmati penurunan harga pada sejumlah komoditas dapur dan energi.
Lima komoditas utama yang harganya turun secara bulanan yakni cabai merah, bawang merah, cabai rawit, bensin, dan jeruk.
Namun, penurunan ini sedikit tertahan oleh kenaikan harga pada emas perhiasan, tomat, kangkung, bayam, serta nasi dengan lauk.
Beban Berat di Sektor Perumahan dan Listrik
Kondisi berbeda terlihat jika meninjau inflasi tahunan (year-on-year).
Pada Januari 2026, Lampung mencatatkan inflasi sebesar 1,90%, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi Januari 2025 yang hanya 1,04%.
Penyebab utamanya bukan berasal dari sektor pangan, melainkan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami lonjakan inflasi hingga 15,45%.
Secara spesifik, tarif listrik menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar, yaitu mencapai 1,55%, disusul oleh emas perhiasan (0,61%) dan beras (0,14%).
“Penyumbang utama inflasi Januari 2026 secara tahunan adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dengan komoditas penyumbang utama adalah tarif listrik,” jelas Sabiel.
Baca Juga: Konsumsi Energi RI Melonjak 7,2%: Sinyal Ekonomi atau Boros Energi?
Pendidikan Jadi Penyeimbang
Di tengah lonjakan biaya energi, sektor pendidikan justru memberikan kabar baik bagi warga.
Kelompok pendidikan tercatat mengalami penurunan harga (deflasi) yang sangat dalam, yaitu sebesar -17,97%.
Komoditas yang menahan laju inflasi ini adalah turunnya tarif sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Secara kewilayahan, seluruh kabupaten/kota di Lampung mengalami kenaikan harga tahunan.
Kabupaten Mesuji mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,92%, diikuti Lampung Timur (2,69%) dan Kota Metro (2,03%), Kota Bandar Lampung (1,43%).
Kota Bandar Lampung menjadi satu-satunya wilayah yang masih mencatatkan inflasi bulanan tipis sebesar 0,18%, di saat daerah lain sudah mengalami deflasi, dengan deflasi bulanan terdalam tercatat di Kabupaten Mesuji (0,51%); Lampung Timur (0,40%); Kota Metro (0,34%).
Baca Juga: Tren Berubah: Mobil Listrik Kini Jadi Andalan Perjalanan Jarak Jauh

