DASWATI.ID – Kabar kurang menggembirakan datang dari sektor pertanian di Provinsi Lampung pada awal tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan adanya penurunan Nilai Tukar Petani (NTP), indikator utama yang mencerminkan tingkat kesejahteraan dan daya beli masyarakat tani.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel, mengungkapkan bahwa pada Januari 2026, indeks NTP Lampung tercatat sebesar 128,17.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,52 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Sabiel menjelaskan bahwa NTP pada dasarnya adalah alat ukur untuk melihat kemampuan tukar hasil panen petani dengan kebutuhan hidup mereka.
“Indikator NTP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani atas hasil produksinya dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani untuk memenuhi kebutuhannya,” terangnya melalui kanal YouTube BPS Lampung pada Senin (2/2/2026).
Baca Juga: Bukan Pangan, Tarif Listrik Justru Jadi Biang Kerok Inflasi
Sektor Hortikultura Paling Terpukul
Penurunan daya beli ini dipicu oleh melemahnya sebagian besar subsektor pertanian di Lampung. Penurunan paling signifikan terjadi pada subsektor hortikultura yang anjlok hingga 11,91 persen.
Selain hortikultura, beberapa sektor lain yang juga mengalami penyusutan nilai adalah:
- Tanaman Pangan: Turun 1,98 persen;
- Peternakan: Turun 1,13 persen;
- Tanaman Perkebunan Rakyat: Turun tipis 0,07 persen;
- Perikanan Budidaya: Turun 0,07 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima petani dari penjualan hasil bumi mereka belum mampu mengimbangi kenaikan biaya produksi maupun biaya hidup harian.
Di tengah kelesuan mayoritas sektor pertanian, subsektor perikanan tangkap menjadi satu-satunya yang mencatatkan pertumbuhan positif.
Para nelayan yang melakukan penangkapan ikan di laut maupun perairan umum mengalami kenaikan nilai indeks mencapai 1,62 persen, menjadikannya satu-satunya subsektor yang bertahan di zona hijau pada awal tahun 2026 ini.

