DASWATI.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan terjadinya peningkatan tekanan harga konsumen pada penghujung tahun 2025.
Berdasarkan rilis resmi pada Senin (5/1/2026), Provinsi Lampung mencatatkan inflasi sebesar 0,59 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Desember 2025.
Angka ini terpantau lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi pada periode Desember tahun sebelumnya yang sebesar 0,47 persen.
Komoditas Pangan dan Emas sebagai Pemicu Utama
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, Muhammad Sabiel Adi Prakasa, mengungkapkan bahwa kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi motor utama inflasi bulanan dengan kenaikan sebesar 1,42 persen dan memberikan andil inflasi total sebesar 0,48 persen.
Dalam kelompok tersebut, cabai rawit muncul sebagai komoditas dengan andil inflasi tertinggi sebesar 0,17 persen.
Selain cabai, kenaikan harga emas perhiasan juga memberikan tekanan signifikan dengan andil 0,05 persen, diikuti oleh komoditas lain seperti bawang putih (0,11 persen), bawang merah (0,10 persen), dan bensin (0,03 persen.
Kinerja Inflasi Tahunan dan Kelompok Pengeluaran
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Provinsi Lampung mencatatkan inflasi sebesar 1,25 persen pada Desember 2025.
Menariknya, jika ditinjau secara tahunan, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatatkan tingkat inflasi tertinggi mencapai 8,45 persen.
Hal ini sejalan dengan data bahwa emas perhiasan menjadi pendorong inflasi tahunan paling dominan dengan andil 0,53 persen, melampaui andil cabai merah (0,36 persen) dan beras (0,14 persen).
Faktor Penahan Inflasi
Meskipun terjadi kenaikan pada harga pangan dan emas, laju inflasi tertahan oleh deflasi di beberapa sektor.
Kelompok Pendidikan mencatatkan deflasi tahunan yang sangat tajam sebesar 17,98 persen, dengan penurunan biaya di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan SMP sebagai penyumbang utama deflasi.
Secara bulanan, komoditas seperti tomat, salak, sabun mandi, dan tarif angkutan penyeberangan juga turut memberikan andil deflasi yang meredam kenaikan harga lebih lanjut.
Kondisi Regional Kabupaten/Kota
Berdasarkan pantauan indeks harga konsumen (IHK) di empat kabupaten/kota di Lampung, terdapat perbedaan intensitas inflasi di setiap wilayah:
- Inflasi Tertinggi: Terjadi di Kabupaten Mesuji dengan angka 2,69 persen (y-on-y) dan 0,87 persen (m-to-m);
- Inflasi Terendah: Tercatat di Kota Bandar Lampung yang hanya mengalami inflasi 0,44 persen (y-on-y) dan 0,43 persen (m-to-m).
Data BPS ini menunjukkan bahwa dinamika harga kebutuhan pokok dan barang berharga di akhir tahun memerlukan perhatian khusus, terutama di wilayah kabupaten yang mengalami lonjakan harga lebih tinggi dibandingkan pusat kota.
Baca Juga: Lemak Nabati Lampung Jadi Primadona Ekspor ke AS & Tiongkok

