Ekonomi » Kabar Baik! Nilai Tukar Petani Lampung Capai Indeks 130,15

Kabar Baik! Nilai Tukar Petani Lampung Capai Indeks 130,15

oleh
NTP Lampung Maret 2025: Mayoritas Subsektor Turun, Perikanan Budidaya Naik Tipis
Areal persawahan di tengah pemukiman padat penduduk Kota Bandar Lampung. Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Sektor pertanian di Provinsi Lampung menunjukkan tren penguatan kesejahteraan yang signifikan pada penghujung tahun 2025.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada Desember 2025 tercatat mencapai indeks 130,15, atau mengalami kenaikan sebesar 0,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan Kesejahteraan Petani

Data ini disampaikan oleh Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, Muhammad Sabiel Adi Prakasa, dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) secara daring pada Senin (5/1/2026) melalui kanal YouTube BPS Provinsi Lampung.

Kenaikan indeks NTP ini menjadi indikator penting bagi daya beli masyarakat perdesaan, mengingat NTP merupakan hasil perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dari hasil produksinya dengan indeks harga yang harus dibayar petani untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maupun biaya produksi.

Baca Juga: Lemak Nabati Lampung Jadi Primadona Ekspor ke AS & Tiongkok

Hortikultura dan Tanaman Pangan Jadi Motor Penggerak

Peningkatan NTP Lampung pada Desember 2025 didorong oleh performa positif di sejumlah subsektor utama, yaitu:

  • Hortikultura: Mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 5,64 persen;
  • Tanaman Pangan: Mengalami kenaikan sebesar 1,62 persen;
  • Perikanan Tangkap: Tumbuh sebesar 0,57 persen;
  • Peternakan: Naik tipis sebesar 0,05 persen.

Capaian impresif pada subsektor hortikultura dan tanaman pangan menunjukkan bahwa hasil panen petani di kategori ini memiliki nilai tawar yang lebih baik di pasar dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Tantangan di Sektor Perkebunan dan Budidaya

Meski secara umum NTP provinsi meningkat, terdapat dua subsektor yang masih menghadapi tantangan dan mengalami penurunan indeks, yaitu:

  • Perikanan Budidaya: Mengalami penurunan sebesar 1,06 persen;
  • Tanaman Perkebunan Rakyat: Turun sebesar 0,50 persen.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa para petani di sektor perkebunan dan pembudidaya ikan mengalami tekanan, di mana harga jual hasil produksi mereka mungkin tidak sebanding dengan kenaikan harga barang kebutuhan atau biaya operasional selama periode tersebut.

Secara keseluruhan, pencapaian NTP di angka 130,15 menempatkan petani Lampung dalam posisi ekonomi yang relatif kuat, mengingat angka di atas 100 menunjukkan bahwa petani secara umum mengalami surplus atau peningkatan kesejahteraan dibanding periode dasarnya.

Baca Juga: Lampung 2025: Sektor Pertanian Menua di Tengah Ledakan Bonus Demografi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *