OPINI » Kapolres Malaka AKBP Riki Ganjar Gumilar Melebur dalam Kekerabatan

Kapolres Malaka AKBP Riki Ganjar Gumilar Melebur dalam Kekerabatan

oleh
Kapolres Malaka AKBP Riki Ganjar Gumilar Melebur dalam Kekerabatan
Kapolres Malaka AKBP Riki Ganjar Gumilar hadir dalam acara Hisa Uma Adat (Atap Rumah Adat) Uma Dato Nonot Forenain, 29-31 Oktober 2025, di Desa Babulu, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Foto: Istimewa

Oleh: Mahendra Utama–Pemerhati Pembangunan 

DASWATI.ID – Dalam lanskap ketahanan keamanan nasional modern, pendekatan human security yang mengedepankan kedekatan emosional dan budaya dengan masyarakat lokal menunjukkan signifikansi yang kian penting.

Figur kepolisian di wilayah perbatasan, seperti AKBP Riki Ganjar Gumilar, Kapolres Malaka, hadir sebagai representasi nyata dari transformasi Polri yang menolak bertumpu semata-mata pada metode konvensional.

Kepemimpinannya menegaskan bahwa fondasi keamanan yang berkelanjutan (#KamtibmasHumanis) tidak diukur dari jumlah personel, melainkan dari kedalaman empati dan penghormatan terhadap budaya setempat.

Aksi Simbolis Merajut Keamanan

Komitmen #PolriHumanis ini terwujud dalam berbagai inisiatif, salah satunya melalui keterlibatan langsung dalam ritual adat.

Kehadiran Kapolres Malaka dalam Acara Hisa Uma Adat (Atap Rumah Adat) Uma Dato Nonot Forenain di Desa Babulu jauh melampaui formalitas seremonial. Acara adat ini berlangsung pada 29-31 Oktober 2025.

Dengan penuh kehangatan, Ganjar Gumilar terlibat dalam prosesi penyerahan alang-alang dan, yang paling simbolis, larut menari Tebe bersama masyarakat.

Momen ini menjadi representasi nyata dari Polri yang membumi, di mana aparat dan rakyat bersatu tanpa sekat.

Melalui menari Tebe dan terlibat langsung dalam prosesi adat, Ganjar membangun kepercayaan yang kemudian menjadi fondasi bagi keamanan preventif yang kokoh.

Filosofi Community Policing dan Komitmen Humanis

Pendekatan yang diterapkan oleh AKBP Riki Ganjar Gumilar merupakan contoh sempurna dari #CommunityPolicing yang mengutamakan kedekatan emosional.

Filosofi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan pola pengamanan di daerah lain, seperti Festival Erau Adat Kutai, yang cenderung mengedepankan aspek #EventSecurity dengan penjagaan ketat dan pengendalian kerumunan secara fisik.

Di Malaka, pendekatan humanis ini menciptakan rasa aman yang lebih organik dan berkelanjutan dibandingkan pengamanan reaktif berskala besar.

Keberhasilan pendekatan ini didukung oleh berbagai inisiatif strategis yang menyentuh langsung kebutuhan warga:

1. Penegakan Hukum Humanis: Komisi III DPRD Malaka, melalui Yuventus Adrianus Bere, memuji kapasitas Kapolres yang responsif dan humanis, serta komitmen kuat dalam penegakan hukum di wilayah perbatasan.

2. Pelayanan Inklusif: Polres Malaka menetapkan standar pelayanan publik yang ramah kelompok rentan, menunjukkan perhatian pada keadilan yang inklusif.

3. Kepedulian di Luar Tupoksi: Kepedulian Kapolres melampaui tugas pokok kepolisian, ditunjukkan dengan memimpin langsung kegiatan penanaman dan panen jagung bersama petani demi mendukung #KetahananPangan nasional.

Keamanan yang Lahir dari Kekerabatan

Partisipasi dalam acara adat dan berbagai inisiatif humanis menunjukkan bahwa keberhasilan membangun ketertiban dan keamanan masyarakat (kamtibmas) juga bergantung pada penghormatan budaya.

#KapolresMalaka membuktikan bahwa keamanan yang berkelanjutan hanya lahir ketika polisi tidak hanya berada di tengah masyarakat, tetapi juga berasal dari hati dan diterima dalam kekerabatan masyarakat itu sendiri.

Melebur dalam #BudayaLokal bukan hanya strategi, melainkan esensi dari kepemimpinan yang menghasilkan keamanan organik. (*) 

Baca Juga: Operasi Pekat Krakatau: Antara Tegas dan Humanis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *