Nasional » Konsumsi Energi RI Melonjak 7,2%: Sinyal Ekonomi atau Boros Energi?

Konsumsi Energi RI Melonjak 7,2%: Sinyal Ekonomi atau Boros Energi?

oleh
Konsumsi Energi RI Melonjak 7,2%: Sinyal Ekonomi atau Boros Energi?
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Cilegon, Banten. Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.IDBadan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan Neraca Energi Indonesia 2020–2024, Volume 27, 2025 pada 31 Desember 2025.

Publikasi Neraca Energi Indonesia 2020–2024 menyoroti dinamika siklus energi nasional pascapandemi.

Laporan tersebut mencatat adanya kenaikan konsumsi energi akhir sebesar 7,2% pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total mencapai 7.930.428 terajoule (TJ).

Fenomena ini dipicu oleh pemulihan ekonomi yang meningkatkan mobilitas manusia dan aktivitas di berbagai sektor pengguna energi.

Baca Juga: Tren Berubah: Mobil Listrik Kini Jadi Andalan Perjalanan Jarak Jauh

Produksi Primer Didominasi Batu Bara

Di sisi hulu, produksi energi primer dalam negeri pada tahun 2024 tercatat sebesar 25.617.884 TJ, mengalami kenaikan 7,5% dari tahun 2023.

Batu bara masih menjadi “raja” dengan kontribusi sebesar 21.018.820 TJ atau naik 9,2%. Sebaliknya, produksi minyak mentah dan kondensat justru turun 4,2% menjadi 1.292.308 TJ.

Sementara itu, gas alam menunjukkan pertumbuhan tipis sebesar 2,9% dengan total produksi 2.509.448 TJ.

Dapur Transformasi: PLTU Masih Jadi Tulang Punggung

Proses transformasi energi—yaitu pengolahan energi primer menjadi energi sekunder seperti listrik dan BBM—menyerap input energi neto sebesar -4.031.414 TJ.

Pembangkit listrik menjadi sektor transformasi terbesar yang menyerap input energi mencapai -3.192.163 TJ.

Dari total 343.909 GWh listrik yang dihasilkan pada tahun 2024, mayoritas atau 67,5% berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), diikuti oleh PLTGU (13,9%) dan PLTA (6,3%).

Ironi Ekspor-Impor Energi

Laporan BPS juga mengungkap bahwa Indonesia mengekspor sekitar 56,3% dari total energinya ke luar negeri, terutama ke negara yang minim sumber daya alam.

Batu bara mendominasi arus ekspor ini dengan porsi mencapai 92,1% atau sebesar 13.283.923 TJ.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap impor energi justru meningkat sebesar 8,6% di tahun 2024.

Komoditas impor terbesar adalah BBM berkadar ringan (920.542 TJ), disusul minyak mentah dan batu bara jenis tertentu.

Baca Juga: Sidak SPBU: Stok Kosong dan Pelanggaran SOP Barcode

Industri Sebagai Konsumen Terbesar

Menjawab pertanyaan mengenai lonjakan konsumsi, data BPS menunjukkan bahwa sektor industri dan konstruksi adalah pelahap energi terbesar dengan porsi 56,9% (4.515.252 TJ).

Sektor rumah tangga menempati posisi kedua dengan konsumsi 20,9% (1.659.629 TJ), diikuti oleh transportasi sebesar 15,8% (1.250.606 TJ).

Kenaikan konsumsi ini secara umum dilihat sebagai sinyal positif pemulihan aktivitas ekonomi nasional yang membutuhkan pasokan energi terintegrasi dan berkesinambungan agar tetap lancar.

BPS berharap laporan ini dapat menjadi alat analisis bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan energi yang lebih tepat sasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *