Ekonomi » Krisis Selat Hormuz: 9 Komoditas Non-Minyak Guncang Ekonomi Dunia

Krisis Selat Hormuz: 9 Komoditas Non-Minyak Guncang Ekonomi Dunia

oleh
Krisis Selat Hormuz: 9 Komoditas Non-Minyak Guncang Ekonomi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur perairan penting bagi perdagangan global. Foto: REUTERS/Benoit Tessier-World Economic Forum

DASWATI.ID – Krisis Selat Hormuz mengancam 9 komoditas non-minyak esensial. Gangguan ini memicu inflasi pangan global serta menghambat laju transisi energi hijau dunia.

Konflik di Timur Tengah kini menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur energi dan hampir menutup Selat Hormuz.

Meskipun perhatian dunia tertuju pada kenaikan harga minyak, krisis ini sebenarnya memicu gangguan yang jauh lebih luas pada berbagai komoditas non-minyak.

Menurut laporan World Economic Forum, gangguan ini merupakan disrupsi pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global, namun dampaknya merambat hingga ke rantai pasok manufaktur dan transisi energi hijau.

Berikut adalah sembilan komoditas non-minyak yang kini mengguncang ekonomi dunia akibat krisis tersebut:

Ancaman Serius bagi Pangan Dunia

1. Pupuk (Urea dan Amonia)

Kawasan Teluk Arab adalah pusat pertanian global yang memasok 20% ekspor pupuk dunia.

Ketergantungan dunia pada urea dari wilayah ini bahkan mencapai 46%, yang sangat krusial bagi negara agraris seperti India, Brasil, dan Tiongkok.

Gangguan pasokan ini mengancam kenaikan biaya produksi pangan dan memicu inflasi global.

2. Sulfur

Sebagai produk sampingan dari pengolahan minyak dan gas yang kini terhenti, pasokan sulfur dunia ikut macet.

Hampir setengah dari perdagangan sulfur dunia melewati Selat Hormuz.

Kelangkaan sulfur menghambat produksi asam sulfat yang sangat dibutuhkan untuk industri pupuk fosfat dan pengolahan mineral baterai.

Bahan Baku Industri dan Kimia

3. Metanol

Sekitar sepertiga perdagangan metanol dunia melewati jalur ini.

Gangguan distribusi metanol memukul industri plastik, cat, dan serat sintetis, terutama di Tiongkok yang merupakan pembeli terbesar dunia.

Jika ekspor tetap terhenti, stok di pelabuhan akan jatuh di bawah ambang batas peringatan.

4. Glikol (MEG)

Komoditas ini adalah bahan utama untuk serat poliester dan kemasan tekstil. Timur Tengah mengekspor sekitar 6,5 juta ton MEG pada tahun 2025.

Kelangkaan ini memaksa pembeli di Asia mencari alternatif ke Amerika Serikat, yang dipastikan akan mendongkrak harga pasar.

Pilar Transisi Energi Hijau

5. Aluminium

Timur Tengah memproduksi sekitar 9% aluminium primer dunia di luar Tiongkok.

Logam ini sangat penting untuk sektor konstruksi, transportasi, dan energi terbarukan.

Saat ini, stok aluminium di gudang bursa logam London mulai terkuras akibat terhentinya ekspor dari smelter di kawasan Teluk.

6. Bahan Baku Grafit

Produksi grafit sintetis untuk baterai kendaraan listrik (EV) sangat bergantung pada petroleum coke hasil olahan minyak.

Terganggunya kilang minyak membuat bahan baku ini langka dan mahal.

Kondisi ini semakin menekan biaya produksi baterai EV yang sebelumnya sudah terbebani masalah logistik.

7. Infrastruktur Hidrogen Hijau

Krisis ini mengancam lini masa proyek energi bersih di masa depan.

Meskipun Timur Tengah berambisi menjadi pusat hidrogen hijau dunia, ketidakpastian jalur pelayaran menghambat investasi dan pembangunan infrastruktur ekspor yang telah direncanakan.

Kesehatan dan Industri Berat

Krisis Selat Hormuz: 9 Komoditas Non-Minyak Guncang Ekonomi Dunia

8. Helium

Qatar menyumbang hampir sepertiga pasokan helium dunia.

Kelangkaan helium berdampak langsung pada teknologi tinggi, terutama industri semikonduktor.

Yang lebih mengkhawatirkan, fasilitas kesehatan terancam karena mesin MRI membutuhkan helium cair agar tetap bisa beroperasi.

9. Bijih Besi dan Pelet Baja

Kawasan Teluk adalah pemasok utama bahan baku baja berkualitas tinggi.

Karena pemilik kapal menghindari Selat Hormuz, biaya pengiriman melonjak drastis.

Hal ini menekan margin keuntungan industri baja di Asia dan India yang sedang menghadapi ketidakpastian pengadaan bahan baku.

Menuju Ketahanan Ekonomi Baru

Laporan Risiko Global 2026 dari World Economic Forum menekankan bahwa konfrontasi geoekonomi kini menjadi penggerak utama kebijakan industri.

Krisis ini mengirimkan pesan kuat kepada pemerintah dan industri untuk segera melakukan diversifikasi rantai pasok.

Kini, mengamankan akses terhadap bahan baku kritis bukan lagi sekadar urusan bisnis, melainkan masalah keamanan nasional yang mendesak. (*)

*World Economic Forum: The Strait of Hormuz crisis affects more than just oil. Here are 9 other commodities, 1 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *