Ekonomi » Lakon Pangan di Tanah Sai Bumi

Lakon Pangan di Tanah Sai Bumi

oleh
Lakon Pangan di Tanah Sai Bumi
Seruit salah satu hidangan khas dari Provinsi Lampung. Foto: Istimewa

DASWATI.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis publikasi “Pola Konsumsi Penduduk Provinsi Lampung 2025” pada Jumat (19/12/2025).

Laporan ini menyajikan gambaran komprehensif mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat melalui kacamata pengeluaran rumah tangga.

Data yang bersumber dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode Maret 2025 ini mencakup 10.800 sampel rumah tangga yang tersebar di 15 kabupaten/kota di seluruh Bumi Ruwa Jurai (Provinsi Lampung).

Pergeseran Struktur Pengeluaran

Berdasarkan sumber tersebut, Provinsi Lampung menunjukkan indikasi peningkatan kesejahteraan ekonomi yang ditandai dengan penurunan persentase pengeluaran untuk makanan.

Jika pada tahun 2024 porsi konsumsi makanan mencapai 54,68 persen, pada tahun 2025 angka tersebut melandai menjadi 53,86 persen.

Fenomena ini selaras dengan Hukum Engel yang menyatakan bahwa seiring dengan meningkatnya pendapatan, persentase pengeluaran untuk pangan akan cenderung menurun.

Secara nominal, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Lampung mengalami pertumbuhan sebesar 3,17 persen, meningkat dari Rp1.201.473 pada tahun 2024 menjadi Rp1.239.613 per bulan pada tahun 2025.

Dua Wajah Konsumsi: Kota dan Desa

Publikasi BPS Lampung mengungkap perbedaan kontras pola konsumsi antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Masyarakat di wilayah perkotaan kini lebih banyak mengalokasikan anggarannya untuk kebutuhan bukan makanan (50,43 persen) dibandingkan makanan (49,57 persen).

Sebaliknya, penduduk di perdesaan masih menempatkan pangan sebagai prioritas utama dengan porsi pengeluaran mencapai 57,16 persen.

Kota Bandar Lampung tercatat sebagai wilayah dengan nilai pengeluaran tertinggi, di mana pengeluaran non-makanan mencapai Rp1.011.424 per bulan.

Sementara itu, Kabupaten Lampung Barat mencatatkan lompatan pertumbuhan pengeluaran paling signifikan sebesar 17,97 persen, sekaligus menjadi daerah dengan penurunan porsi konsumsi makanan terdalam.

Faktor Penentu dan Ketahanan Gizi

Sumber BPS juga menyoroti bahwa tingkat pendidikan Kepala Rumah Tangga (KRT) dan golongan pengeluaran (kuantil) menjadi faktor krusial dalam menentukan pola konsumsi. Semakin tinggi pendidikan KRT, semakin kecil proporsi anggaran yang digunakan untuk makanan.

Dari sisi ketahanan gizi, rata-rata konsumsi penduduk Lampung mencapai 2.037,55 kkal untuk energi dan 59,05 gram untuk protein per kapita per hari.

Meskipun angka protein telah melampaui standar kecukupan nasional 2018 (57 gram), angka konsumsi kalori masih sedikit di bawah patokan 2.100 kkal.

Publikasi “Pola Konsumsi Penduduk Provinsi Lampung 2025” diharapkan menjadi instrumen vital bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi program pembangunan dan menyusun kebijakan pemenuhan kebutuhan dasar yang lebih tepat sasaran di masa depan.

Baca Juga: Riak Angka di Balik Jernihnya Air Bumi Ruwa Jurai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *