DASWATI.ID – Dunia akademik dan aktivisme di Lampung tengah berduka atas berpulangnya Dr. Nanang Trenggono pada Rabu (21/1/2026) di RS Imanuel Bandar Lampung.
Kepergian sosok dosen FISIP Universitas Lampung (Unila) ini meninggalkan kesan mendalam, terutama bagi para eksponen aktivis Reformasi 1998 yang mengenangnya sebagai pelindung di masa-masa sulit.
Mahendra Utama, seorang aktivis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Lampung, melalui puisinya “Kenangan untuk Nanang Trenggono: Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998” mengungkapkan bahwa almarhum bukan sekadar pengajar ilmu, melainkan sosok “oasis di padang represi“.
Pada periode 1996–1998, saat aktivis mahasiswa dari organisasi seperti SMID dan PRD diburu dan dituduh makar oleh rezim Orde Baru, Nanang Trenggono hadir memberikan perlindungan nyata.
“Kau beri ruang di kantor, kirim buku, kau lindungi kami dari razia aparat,” tulis Mahendra dalam memoar puisinya.
Dukungan moral dari almarhum yang selalu membisikkan kalimat, “Jangan takut, perjuangan kalian benar,” menjadi kekuatan bagi mahasiswa yang saat itu kerap menghadapi teror dan ancaman.
Bagi para pejuang demokrasi, kehadiran Nanang Trenggono dianggap sebagai “oksigen” yang menjaga semangat perjuangan tetap hidup di tengah beringasnya pembungkaman suara oleh aparat pada masa itu.
Selain dikenal dekat dengan mahasiswa, almarhum juga dikenang sebagai akademisi yang berpihak pada rakyat serta pengawal pemilu yang jujur.
Kepergian almarhum akibat sakit syaraf kejepit ini merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Lampung.
Meski telah tiada, warisan nilai keberanian, keadilan, dan integritas yang diajarkannya diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk mengawal demokrasi di Indonesia.
Puisi Mahendra Utama
“Kenangan untuk Nanang Trenggono: Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998”
DUKA
Kabar duka datang di Rabu kelam,
Nanang Trenggono, sang guru, telah berpulang.
Syaraf kejepit merenggut nyawa,
di RS Imanuel Bandar Lampung.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn
Kita milik Allah, dan kepada‑Nyalah kita kembali.
Gelora 1996‑1998
Era itu, rezim masih menggigit,
ABRI beringas, membungkam suara.
SMID dan PRD diburu, dituduh makar,
kami, aktivis kampus, bagai tawanan di lorong gelap.
Tapi semangat tak bisa dipenjara,
demonstrasi, selebaran, diskusi bawah tanah
kami berjuang untuk reformasi,
untuk kebebasan yang belum terjamah.
Sang Dosen Pembela
Di tengah tekanan, kau hadir, Pak Nanang,
dosen FISIP Unila yang berhati lapang.
Kau beri ruang di kantor, kirim buku,
kau lindungi kami dari razia aparat.
Kau tak sekadar mengajar ilmu,
kau ajarkan keberanian, keadilan, dan nurani.
Kau adalah oasis di padang represi,
sosok akademisi yang berpihak pada rakyat.
Kenangan Mahe
Aku, Mahe, aktivis PRD Lampung,
ingat betul senyummu yang menenangkan.
Kau bisikkan, “Jangan takut, perjuangan kalian benar.”
Kau dengar curhat kami tentang ancaman dan teror.
Kau tak pernah menjauh, justru mendekat,
memberi dukungan moral yang kukuh.
Kini kau pergi, meninggalkan luka yang dalam,
tapi kenangan itu tetap hidup, abadi.
Doa untuk Almarhum
Allāhumaghfirlahu warhamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia,
sehatkanlah dia dan maafkanlah kesalahannya.
Tempatkanlah di sisi‑Mu yang terbaik,
di antara orang‑orang yang beriman.
Husnul khatimah menjadi penghantarmu,
semoga amalmu diterima, dan perjuanganmu menjadi inspirasi.
Warisan Nanang Trenggono
Kau mungkin tiada, Pak Nanang,
tapi api reformasi yang kau kobarkan takkan padam.
Kami, eksponen 98, akan terus melangkah,
mengawal demokrasi yang dulu kami perjuangkan.
Kau tinggalkan jejak dosen yang peduli,
pengawal pemilu yang jujur, sahabat aktivis yang setia.
Selamat jalan, guru… perjuanganmu takkan kami lupakan.
“Semoga puisi ini menjadi penghormatan yang tulus untuk seorang guru, sahabat, dan pejuang demokrasi,” ujar Mahe.

