DASWATI.ID – Universitas Lampung (Unila) secara resmi mengukuhkan Prof. Ir. Darwin H. Pangaribuan, M.Sc., Ph.D. sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Hortikultura.
Dalam sidang Senat Terbuka yang berlangsung khidmat di Gedung Serba Guna (GSG) Unila pada Rabu (17/9/2025), Profesor Darwin menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Optimalisasi Hasil dan Kualitas Sayuran melalui Pengelolaan Nutrisi Terpadu pada Sistem Lahan Terbuka dan Hidroponik”.
Melalui orasinya, ia memaparkan sebuah pendekatan holistik yang berpotensi menjadi solusi praktis menuju pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Konsep utama yang diusung adalah Pengelolaan Nutrisi Terpadu (PNT), yang pada dasarnya merupakan sebuah “cara cerdas menggabungkan pupuk organik dari limbah ternak dan tanaman dengan pupuk kimia”.
Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil tanaman, tetapi juga bertujuan memelihara kesuburan tanah jangka panjang dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Prinsip dasar PNT mencakup tiga pilar utama: efisiensi pemupukan, keberlanjutan, dan peningkatan produktivitas.
Pada sistem lahan terbuka, penerapan PNT terbukti mampu memberikan dampak signifikan.
Profesor Darwin menjelaskan bahwa PNT dapat meningkatkan hasil panen hingga 25-30% dibandingkan metode konvensional.
Hal ini dicapai melalui perbaikan kesehatan tanah, di mana penggunaan pupuk organik seperti kompos dan pupuk kandang dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat, dan menaikkan kapasitas retensi air.
Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kombinasi pupuk organik dengan anorganik secara nyata meningkatkan biomassa, hasil, dan kualitas tanaman seperti jagung manis, bahkan dapat mengurangi populasi hama.
Inovasi PNT tidak berhenti di lahan terbuka, tetapi juga merambah ke sistem budidaya modern seperti hidroponik.
Dalam sistem ini, PNT diimplementasikan dengan mengganti sebagian nutrisi kimia seperti AB Mix dengan pupuk organik cair (POC) yang berasal dari ekstrak tanaman maupun limbah ternak.
Hasilnya sangat menjanjikan. Sebuah studi menunjukkan bahwa penggunaan POC dari ekstrak rumput laut Sargassum sp. mampu meningkatkan bobot segar tanaman sawi hingga 52,22% dibandingkan kontrol yang hanya menggunakan AB Mix.
Demikian pula, ekstrak limbah ternak yang difermentasi menunjukkan potensi besar sebagai substitusi nutrisi anorganik.
Lebih dari sekadar konsep ilmiah, PNT menawarkan keuntungan nyata bagi berbagai pihak.
Bagi petani, pendekatan ini menjanjikan panen yang lebih melimpah, biaya pemupukan yang lebih efisien, dan lingkungan pertanian yang lebih sehat. Bagi konsumen, hasilnya adalah sayuran yang lebih segar dan berkualitas baik.
Sementara bagi lingkungan, PNT menjadi jawaban atas tantangan keberlanjutan dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Untuk mengimplementasikan PNT secara luas, Profesor Darwin merekomendasikan perlunya edukasi dan pelatihan intensif bagi para petani.
Dukungan dari pemerintah dan berbagai lembaga terkait dalam bentuk penyuluhan juga dianggap krusial untuk mendorong adopsi PNT.
“Pengelolaan nutrisi terpadu menawarkan solusi yang berkelanjutan dan efisien untuk meningkatkan produktivitas pertanian sayuran,” pungkas dia.
Dalam kesempatan tersebut, Profesor Darwin juga mendedikasikan pencapaiannya kepada masyarakat, khususnya para petani, serta untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Ia berharap ilmunya dapat diaplikasikan secara nyata untuk membangun pertanian yang lebih maju, berdaya saing, dan berkelanjutan demi terwujudnya ketahanan pangan bagi generasi masa depan.
Baca Juga: Eliksir Hijau Sang Bumi: Transformasi Limbah Menjadi Berkah Gizi di Lampung

