DASWATI.ID – Provinsi Lampung mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lumbung utama Pekerja Migran Indonesia (PMI) di tingkat nasional.
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BP2MI pada Januari 2026, tercatat bahwa minat PMI Lampung ke Jepang mengalami lonjakan drastis di tengah fluktuasi penempatan global.
Meskipun secara nasional jumlah penempatan mengalami sedikit penurunan sebesar 0,16% pada tahun 2025, kontribusi Lampung tetap signifikan dengan total akumulasi mencapai 72.165 layanan penempatan selama periode 2023-2025.
Baca Juga: Restorasi Lampung: Kirim Pemuda ke Jepang, Pulang Bawa Perubahan
Pergeseran Tren: Lonjakan Signifikan di Sektor SSW Jepang
Salah satu sorotan utama dalam dinamika ekonomi tenaga kerja Lampung adalah pergeseran minat ke negara penempatan dengan keahlian khusus atau Specified Skilled Worker (SSW).
Skema SSW ke Jepang menjadi primadona baru, di mana Lampung kini menempati peringkat ke-4 provinsi asal dengan pertumbuhan paling progresif secara nasional.
Data menunjukkan pertumbuhan yang sangat tajam: dari hanya 365 layanan pada tahun 2023, angka ini meningkat menjadi 526 pada 2024, dan melonjak hingga 948 layanan pada tahun 2025.
Peningkatan yang hampir menyentuh angka tiga kali lipat ini membuktikan bahwa minat PMI Lampung ke Jepang melalui jalur berkeahlian tinggi semakin kompetitif, dengan total 1.839 warga Lampung telah berangkat melalui skema SSW dalam tiga tahun terakhir.
Selain Jepang, Lampung juga mencatatkan performa kuat pada skema Special Placement Program to Taiwan (SP2T) dengan menduduki peringkat ke-4 nasional.
Baca Juga: Jepang Targetkan 80 Ribu Pekerja Konstruksi Asing Hingga 2029

Lampung Timur: Tulang Punggung Penempatan Nasional
Keberhasilan Lampung di kancah internasional tidak lepas dari kontribusi masif Kabupaten Lampung Timur.
Wilayah ini secara konsisten menjadi tulang punggung penempatan PMI dari Provinsi Lampung, bahkan berhasil menembus jajaran 10 besar kabupaten/kota pengirim PMI terbanyak di tingkat nasional.
Sepanjang tahun 2023 hingga 2025, Lampung Timur mencatatkan total 27.592 penempatan.
Secara terperinci, pada tahun 2025 saja, kabupaten ini mengirimkan 9.343 pekerja migran, yang menempatkannya di posisi ke-7 nasional.
Dalam skema khusus SSW Jepang, Lampung Timur juga menunjukkan taringnya dengan menempati peringkat ke-11 nasional, menyumbang total 566 layanan selama periode tiga tahun tersebut.
Tantangan Pelindungan di Balik Tingginya Angka Penempatan
Namun, tingginya angka keberangkatan ini membawa tantangan tersendiri dalam aspek perlindungan.
Sebagai salah satu daerah asal terbesar, Lampung turut menghadapi risiko kasus yang cukup tinggi.
Tercatat, Lampung menempati peringkat ke-8 nasional dalam jumlah layanan pengaduan dengan total 301 aduan selama 2023-2025.
Kabupaten Lampung Timur kembali menjadi pusat perhatian karena menyumbang 114 aduan dari total kasus tersebut.
Secara nasional, kategori kasus seperti “PMI ingin dipulangkan” atau “gagal berangkat” masih menjadi isu dominan.
Hal ini mendorong perlunya penguatan edukasi dan mediasi di tingkat lokal, terutama di wilayah kantong PMI, guna menekan angka kasus dan memastikan keamanan para pekerja di luar negeri.
Melihat pesatnya minat PMI Lampung ke Jepang, pemerintah daerah disarankan untuk terus mengoptimalkan skema formal melalui peningkatan pelatihan kompetensi.
Dengan penguatan pada sektor keahlian tinggi, diharapkan PMI asal Lampung tidak hanya unggul secara kuantitas, tetapi juga memiliki daya saing yang kuat serta mendapatkan perlindungan yang lebih terjamin di pasar kerja global.

