DASWATI.ID – Tingkat penghunian kamar (TPK) atau okupansi hotel berbintang di Provinsi Lampung turun pada Februari 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis data yang menunjukkan penurunan kinerja industri perhotelan berbintang pada Februari 2025 pada Selasa (8/4/2025).
TPK hotel berbintang hanya mencapai 37,70 persen, turun 3,27 poin dari Januari 2025 (40,97 persen) dan 6,17 poin lebih rendah dibandingkan Februari 2024 (43,87 persen).
Menurut laporan BPS, TPK atau okupansi hotel berbintang di Lampung turun pada Februari 2025.
TPK hotel Bintang 1&2 tercatat 31,64 persen pada Februari 2025, turun dari 25 persen di awal 2024 meski sempat naik tipis di pertengahan tahun.
Hotel Bintang 3 juga merosot dari 35 persen menjadi 33,22 persen, sementara Bintang 4&5, yang tetap tertinggi, turun dari 45 persen menjadi 46,04 persen.
“Tren penurunan ini terlihat di semua kategori, dengan Bintang 4&5 masih mendominasi,” ujar Statistisi Ahli Madya BPS Lampung, Muhammad Ilham Salam, dalam rilis daring.
Jumlah tamu yang menginap juga menurun signifikan.
Pada Februari 2025, total tamu mencapai 69.349 orang, terdiri dari 534 tamu asing dan 68.815 tamu domestik.
Angka ini turun 22,50 persen atau 20.135 orang dibandingkan Januari 2025 yang mencatat 89.484 tamu. Namun, dibandingkan Februari 2024 (66.986 tamu), jumlah tamu naik tipis sebesar 3,53 persen.
Tren tamu asing dan domestik menunjukkan pola berbeda.
Tamu asing meningkat 16,59 persen, dari 458 orang pada Januari 2025 menjadi 534 orang pada Februari 2025, terutama di hotel Bintang 4&5 (naik 51,31 persen dari 267 ke 404 tamu) dan Bintang 3 (naik 8,93 persen dari 112 ke 122 tamu).
Namun, tamu asing di Bintang 1&2 anjlok drastis 89,87 persen, dari 79 menjadi hanya 8 tamu.
Sebaliknya, tamu domestik turun 22,70 persen, dari 89.026 menjadi 68.815 orang, dengan penurunan terbesar di Bintang 1&2 (23,89 persen), Bintang 4&5 (23,58 persen), dan Bintang 3 (21,02 persen).
Meski okupansi menurun, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) sedikit membaik, naik dari 1,17 hari pada Januari 2025 menjadi 1,29 hari pada Februari 2025.
“Kenaikan RLMT ini menunjukkan tamu cenderung tinggal lebih lama, meski jumlahnya berkurang,” tambah Ilham.
BPS menilai penurunan tamu domestik menjadi faktor utama melemahnya kinerja perhotelan.
“Dibutuhkan strategi promosi yang lebih agresif untuk menarik wisatawan lokal,” kata Ilham.
Sementara itu, kenaikan tamu asing di segmen premium menunjukkan potensi pasar internasional yang dapat digarap lebih lanjut.
Penurunan ini menjadi tantangan bagi industri perhotelan Lampung di tengah upaya pemulihan sektor pariwisata pascapandemi.
Pelaku usaha diharapkan dapat berinovasi untuk menggenjot kunjungan, terutama di segmen domestik yang mendominasi pasar.

