Optimisme Ekonomi 2026: Menkeu Targetkan Pertumbuhan 5,4% dan Defisit Lebih Rendah

oleh
Optimisme Ekonomi 2026: Menkeu Targetkan Pertumbuhan 5,4% dan Defisit Lebih Rendah
Konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Dokumentasi Kementerian Keuangan RI

DASWATI.IDMenteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional di tahun 2026 dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4 persen.

Keyakinan ini didasari oleh penguatan fondasi ekonomi serta kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dinilai solid dan responsif terhadap gejolak global.

Kinerja Pendapatan dan Belanja Negara 2025

Dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026), Menkeu memaparkan bahwa realisasi sementara pendapatan negara tahun 2025 mencapai Rp2.756,3 triliun, atau sekitar 91,7 persen dari outlook laporan semester.

Capaian ini didorong oleh:

  1. Penerimaan Perpajakan: Rp2.217,9 triliun (terdiri dari Pajak Rp1.917,6 triliun dan Kepabeanan serta Cukai Rp300,3 triliun).
  2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Rp534,1 triliun, melampaui target awal sebesar 104,0 persen.
  3. Penerimaan Hibah: Melonjak drastis hingga Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari target.

Dari sisi belanja negara, realisasi tercatat sebesar Rp3.451,4 triliun (95,3 persen dari outlook).

Anggaran ini dialokasikan untuk belanja pemerintah pusat sebesar Rp2.602,3 triliun, mencakup belanja K/L Rp1.500,4 triliun dan non-K/L Rp1.102 triliun, serta transfer ke daerah sebesar Rp849 triliun.

Fokus belanja tetap diarahkan pada program prioritas yang adaptif dan akomodatif untuk kesejahteraan masyarakat.

Strategi Countercyclical dan Pengendalian Defisit

Menkeu menekankan bahwa APBN berfungsi sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat di tengah kondisi global yang volatile.

Mengingat ekonomi sedang mengalami tren penurunan (downtrend), pemerintah berkomitmen menjalankan kebijakan countercyclical melalui pemberian stimulus ekonomi.

“Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan tanpa membahayakan APBN,” ujar Purbaya.

Meski memberikan stimulus, pemerintah berhasil menjaga defisit pada level aman, yakni 2,92 persen dari PDB atau sebesar Rp695,1 triliun, tetap konsisten di bawah ambang batas 3 persen.

Proyeksi Ekonomi 2026

Memasuki tahun 2026, pemerintah berupaya meningkatkan target pertumbuhan ke level yang lebih tinggi dari asumsi 5,4 persen dengan menekan defisit ke level yang lebih rendah.

Reformasi kualitas APBN akan terus dilakukan pada sisi pendapatan, belanja, dan pembiayaan guna memastikan dampak pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih besar oleh masyarakat.

Dengan mengoptimalkan APBN sebagai mesin pertumbuhan, pemerintah berharap momentum penguatan ekonomi saat ini menjadi pijakan kuat untuk menghadapi tantangan global di masa depan.

Baca Juga: Tren Berubah: Mobil Listrik Kini Jadi Andalan Perjalanan Jarak Jauh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *