DASWATI.ID – Pedagang kelapa parut di Kota Bandar Lampung hadapi tantangan harga ekspor.
Winda (32), pedagang bumbu dan kelapa parut di Pasar Kangkung, Bandar Lampung, menghadapi tantangan kenaikan harga kelapa akibat ekspor ke Korea dan Jepang pasca-Idulfitri 2025.
Harga kelapa melonjak hingga Rp25.000 per gandeng (dua butir), jauh di atas harga normal Rp10.000, karena petani lebih memilih menjual ke eksportir dengan harga Rp8.000–Rp10.000 per kilogram.
“Setelah Lebaran, harga malah lebih tinggi karena kelapa diekspor. Petani bilang eksportir bayar cepat, tinggal telepon, uang sudah ditransfer,” ujar Winda di Bandar Lampung, Senin (21/4/2025).
Ia kini harus blusukan ke petani kelapa di Padang Cermin, Pesawaran, untuk mendapatkan stok, tanpa jaminan kualitas.
“Dulu kelapa tua terjamin, sekarang campur kelapa muda, tidak bisa komplain,” tambahnya.
Ekspor kelapa, yang dimulai ke Thailand dan Vietnam pada 2024, menyebabkan stok lokal menipis.
Menjelang Idulfitri, Winda terpaksa tutup tiga hari karena kekurangan stok.
“Saya keliling sampai malam terakhir, tapi kosong,” kenangnya.
Pedagang kelapa di Bandar Lampung hadapi tantangan harga ekspor.
Kini, meski stok mulai ada, harga tetap tinggi, dan pelanggan rumah makan mengurangi pembelian akibat ekonomi lemah.
Winda berharap petani lokal mempertimbangkan pedagang kecil seperti dirinya, yang harus menyortir kelapa berdasarkan kualitas, berbeda dengan eksportir yang menerima semua jenis kelapa.
“Kami ikut harga petani, untung kalau dapat kelapa besar,” tuturnya.

