Lampung » Pemprov Lampung Kejar Nilai Tambah Pertanian Rp100 Triliun

Pemprov Lampung Kejar Nilai Tambah Pertanian Rp100 Triliun

oleh
Pemprov Lampung Kejar Nilai Tambah Pertanian Rp100 Triliun
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam acara Coffee Morning bersama dunia usaha di PT Nestle Indonesia Panjang Factory, Bandar Lampung, Rabu (28/1/2026). Dokumentasi Biro Adpim Lampung

DASWATI.IDPemerintah Provinsi Lampung menargetkan potensi ekonomi hingga Rp100 triliun dari sektor pertanian agar tetap berputar di dalam daerah.

Melalui penguatan hilirisasi dan kolaborasi strategis dengan dunia usaha, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berkomitmen mengubah wajah ekonomi Lampung menjadi lebih inklusif dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Memutus Rantai Penjualan Bahan Mentah

Dalam acara Coffee Morning yang digelar di PT Nestle Indonesia Panjang Factory pada Rabu (28/1/2026), Gubernur Mirza memaparkan tantangan besar ekonomi daerahnya.

Meskipun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tahun 2024 mencapai Rp483 triliun, sekitar Rp130 triliun masih berasal dari bahan mentah sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Mirisnya, baru sekitar 40 persen dari komoditas tersebut yang diolah di dalam daerah.

Hal ini menyebabkan potensi nilai tambah sebesar Rp70-100 triliun mengalir keluar dari Lampung dalam bentuk bahan mentah.

“Kami ingin komoditas Lampung seperti kopi, jagung, padi, dan singkong diolah di Lampung agar memberi nilai tambah bagi petani dan masyarakat kita,” ujar Mirza di hadapan pimpinan dunia usaha. 

Baca Juga: Gandeng Inggris, Wagub Jihan Dorong Kakao Lampung Mendunia

Program “Desaku Maju” Sebagai Solusi Konkret

Untuk mengejar nilai tambah tersebut, Pemprov Lampung meluncurkan program Desaku Maju. Program ini berfokus pada pengolahan hasil pertanian langsung dari desa dengan menyediakan mesin pengering (dryer), pupuk organik cair, pelatihan vokasi, serta penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Langkah ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan di tingkat tapak.

Gubernur Mirza mengungkapkan bahwa desa-desa yang telah menggunakan dryer mampu menjaga harga jagung di kisaran Rp4.000 per kilogram, jauh lebih stabil dibandingkan desa tanpa fasilitas tersebut.

“Tambahan pendapatan petani bisa mencapai sekitar Rp1 juta per hektare hanya karena adanya dryer,” jelas dia.

Saat ini, pemerintah menargetkan penyediaan hingga 500 unit dryer di seluruh wilayah Lampung.

Sinergi Industri dan Keberlanjutan Lingkungan

Visi ekonomi inklusif ini mendapat dukungan penuh dari sektor industri. Factory Manager PT Nestle Indonesia Panjang Factory, Jefri Manurung, menyatakan bahwa pihaknya terus memperkuat rantai pasok kopi melalui program Nescafe Coffee Plan yang telah mendampingi 12.600 petani.

Sebagai bukti nyata daya saing industri lokal, dalam pertemuan tersebut juga dilakukan pelepasan ekspor 10 ribu ton produk Maggi Magic Sarap ke Filipina.

Selain penguatan industri, Gubernur Mirza juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan kelestarian lingkungan.

Pemprov Lampung merencanakan rehabilitasi hutan dengan kebutuhan sekitar 9 juta pohon hingga 2029 untuk mengatasi banjir dan degradasi lahan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha, Lampung optimis dapat membangun ekosistem ekonomi yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

Baca Juga: Smallholders vs EUDR: The Future of Lampung’s Green Economy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *