Pendidikan » Rektor Itera Turun Gunung Memanggul Harapan Mocaf

Rektor Itera Turun Gunung Memanggul Harapan Mocaf

oleh
Rektor Itera Turun Gunung Memanggul Harapan Mocaf
Rektor Itera, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, didampingi Kepala LPPM Itera, Dr. Muhammad Fatikul Arif, meninjau kegiatan produksi tepung Mocaf di Desa Mekar Karya, Kecamatan Waway Karya, Lampung Timur, Selasa (21/10/2025). Dokumentasi Itera

DASWATI.IDInstitut Teknologi Sumatera (Itera) secara konsisten berupaya meningkatkan kesejahteraan petani singkong di Lampung melalui program inovasi pengolahan hasil panen.

Upaya terbaru ini diwujudkan melalui pendampingan intensif kepada petani untuk mengolah singkong menjadi Mocaf (Modified Cassava Flour), sejenis tepung yang berbahan dasar singkong namun memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan singkong mentah.

Sebagai bentuk komitmen institusi, Rektor Itera, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, didampingi Kepala Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Itera, Dr. Muhammad Fatikul Arif, meninjau langsung kegiatan produksi tepung Mocaf di Desa Mekar Karya, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, pada Selasa (21/10/2025).

Desa Mekar Karya telah ditetapkan sebagai desa binaan Itera sekaligus proyek percontohan produksi Mocaf berbasis usaha rumah tangga.

Tekanan Harga Rendah dan Potongan Berat

Kunjungan ini dilakukan di tengah kesulitan signifikan yang dihadapi petani singkong di wilayah tersebut.

Sabto Wibowo, seorang petani lokal, mengungkapkan bahwa harga jual singkong saat ini hanya berkisar Rp900 per kilogram.

Selain harga yang rendah, petani juga dirugikan oleh sistem pemotongan di pabrik penampung yang dapat mencapai 45% dari total berat singkong yang mereka jual.

“Dengan harga dan sistem seperti itu, petani tidak pernah untung,” kata Sabto.

Baca Juga: Empat Langkah Strategis Atasi Anjloknya Harga Ubi Kayu di Lampung

Menanggapi kondisi tersebut, Rektor Itera I Nyoman Pugeg menegaskan bahwa perguruan tinggi mengemban tanggung jawab dalam pemberdayaan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pengembangan produk Mocaf dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah singkong Lampung.

“Itera hadir membawa sentuhan teknologi agar petani mampu menghasilkan produk bernilai tinggi seperti tepung Mocaf dengan tujuan agar masyarakat menjadi lebih mandiri dan inovatif dalam mengelola singkong,” jelas dia.

Fokus pada Efisiensi dan Pemanfaatan Limbah

Dalam tinjauan tersebut, Rektor Itera turut memeriksa sejumlah alat bantuan yang digunakan masyarakat, seperti teknologi fermentasi dan mesin pengering singkong.

Rektor menekankan pentingnya penggunaan peralatan modern di setiap tahap produksi, mulai dari pengeringan, pemotongan, hingga pengemasan, agar semua proses berjalan berbasis teknologi dan hasilnya lebih efisien dan higienis.

Lebih lanjut, Rektor Itera berencana menjadikan program pendampingan ini sebagai pilot project yang akan disampaikan kepada Gubernur Lampung, dengan harapan pemerintah daerah dapat memberikan dukungan terhadap rantai bisnis Mocaf.

“Dengan demikian, petani benar-benar bisa merasakan kesejahteraan dari hasil inovasi ini,” ujar Rektor.

Selain fokus pada produk utama, Rektor Itera juga meminta tim dosen yang hadir—termasuk Wafi Adizara Muzakki, dan Mhd. Yasin Siregar—untuk mendampingi petani dalam pemanfaatan limbah singkong.

Contohnya, kulit singkong dapat diolah menjadi bahan cairan pemadam kebakaran, sementara limbah cair hasil rendaman dapat diubah menjadi prebiotik untuk pakan ternak.

Baca Juga: Kolaborasi Itera dan Pemprov Lampung Dorong Teknologi Adaptif

Harapan Baru dan Tantangan Pemasaran

Bagi petani, pendampingan yang diberikan Itera telah memberikan angin segar dan harapan baru untuk meningkatkan pendapatan.

Sabto Wibowo kini mulai memproduksi tepung Mocaf secara mandiri, bahkan menerima pasokan singkong dari petani lain untuk diolah, meskipun dalam jumlah terbatas.

Namun, Sabto berharap pemerintah dapat turut membantu membuka pasar agar produk Mocaf dapat terserap dengan baik.

“Hadirnya Itera memberi angin segar bagi kami. Hasil olahan mocaf ini jauh lebih menjanjikan. Hanya saja, kami berharap pemerintah juga membantu membuka pasar agar produk mocaf bisa terserap dengan baik,” kata Sabto.

Seorang mahasiswa Itera yang terlibat dalam pengembangan usaha ini, Muhammad Ujianto Trepsilo, menambahkan bahwa produk Mocaf masih tergolong baru bagi masyarakat, sehingga tantangan terbesar saat ini adalah pemasaran dan peningkatan kualitas produksi.

Pendampingan Itera sendiri telah berjalan sejak tahun 2024 melalui berbagai program, seperti Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa, KKN tematik, hingga Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Berbasis Desa Binaan (PKM-PDB), yang menginisiasi pengolahan singkong menjadi Mocaf dan produk turunannya.

Mewakili petani, Silo menyampaikan terima kasih kepada Rektor atas pendampingan langsung ini.

“Semoga kegiatan ini menjadi solusi nyata bagi petani singkong dan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain,” harap Silo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *