DASWATI.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis temuan krusial terkait kualitas distribusi dalam “Laporan Hasil Survei Baseline Tahap I Program Makan Bergizi Gratis Provinsi Lampung” untuk periode Januari–Agustus 2025.
Laporan tersebut menyoroti adanya kendala distribusi di mana sebagian kecil penerima melaporkan pernah menerima makanan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Berdasarkan data BPS Lampung yang dipublikasikan pada 31 Desember 2025, secara umum 86,32 persen responden menyatakan bahwa makanan yang diterima dalam kondisi baik, namun terdapat 13,68 persen lainnya yang melaporkan pernah menerima makanan dalam kondisi bau atau basi.
Temuan ini menjadi titik perhatian penting bagi evaluasi program guna memastikan standardisasi kualitas di seluruh wilayah distribusi.
Baca Juga: Berebut Dapur Gizi Gratis
Anomali Distribusi Perkotaan dan Perdesaan
Hasil survei menunjukkan fakta menarik bahwa laporan mengenai makanan bau atau basi justru lebih banyak ditemukan di wilayah perkotaan, yakni mencapai 55,00 persen dari total temuan kasus.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah perdesaan yang mencatatkan angka 45,00 persen.
Ditinjau dari jenjang pendidikan, keluhan terkait kualitas makanan ini paling banyak ditemukan pada kelompok siswa Sekolah Dasar (SD) sebesar 46,67 persen dan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 35,83 persen.
Sementara itu, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) mencatatkan keluhan sebesar 15,83 persen, dan kelompok pra-sekolah memiliki tingkat keluhan paling rendah, yaitu hanya 1,67 persen.
Keamanan Pangan dan Respon Peserta Didik
Meskipun terdapat temuan makanan basi, laporan tersebut menegaskan bahwa tingkat keamanan pangan secara umum tetap terjaga dengan sangat baik.
Data menunjukkan bahwa 98,86 persen siswa tidak mengalami keluhan kesehatan seperti mual, muntah, atau sakit perut setelah mengonsumsi makanan dari program ini.
Baca Juga: Pasca-Keracunan Massal, Pemkot Bandar Lampung Latih Ratusan Penjamah Makanan
Selain itu, antusiasme siswa terhadap menu yang diberikan tetap tinggi, di mana 64,54 persen anak menghabiskan seluruh porsi makanan mereka.
Menu yang paling sering didistribusikan adalah kombinasi nasi, ayam, lauk nabati, sayur, buah, dan susu, yang menjangkau 91,22 persen penerima.
Sebaliknya, menu daging sapi masih menjadi variasi yang paling jarang diberikan, yakni hanya sebesar 20,18 persen.
Komitmen Menuju Perbaikan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, adanya temuan makanan tidak layak di wilayah perkotaan menunjukkan adanya ruang perbaikan yang perlu diperkuat, terutama dalam hal pengawasan distribusi dan pemerataan kualitas menu.
Baca Juga: Gizi untuk Raga, Semangat untuk Jiwa: Refleksi MBG di SMAN 1 Bandar Lampung
Secara keseluruhan, program ini telah memberikan manfaat multidimensi bagi masyarakat Lampung, termasuk meringankan beban ekonomi keluarga dan meningkatkan kesiapan belajar siswa di sekolah.
Evaluasi berkelanjutan diharapkan dapat mengeliminasi kendala teknis distribusi agar seluruh benih harapan di Bumi Lampung mendapatkan nutrisi yang optimal tanpa terkecuali.
Baca Juga: Aroma Tak Sedap Dapur Bergizi

