DASWATI.ID – Pemerintah Indonesia menetapkan target ambisius untuk memproduksi lebih dari 199 ton hidrogen hijau per tahun pada 2026 untuk mempercepat transisi energi menuju emisi nol bersih (Net Zero Emission) pada 2060 atau lebih cepat.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa target tersebut kini menjadi Indikator Kinerja Utama (KPI) baru bagi instansinya.
Pencapaian ini telah disusun dalam National Hydrogen Roadmap yang selaras dengan rencana aksi industri nasional.
“Jadi kami harapkan penambahan hidrogen hijau yang diagendakan 2026 ini harus mencapai lebih dari 199 ton per tahun,” tegas Eniya saat menjelaskan rencana aksi energi tersebut, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Ulubelu: Titik Nyala ‘Game Changer’ Energi Bersih Global
Potensi Indonesia Jadi Hub Asia Pasifik
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menekankan bahwa hidrogen merupakan pembawa energi nol karbon yang krusial untuk menggeser ketergantungan pada energi fosil.
Hal itu disampaikan saat meluncurkan Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 pada Selasa (10/2/2026).
Menurut Yuliot, Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin pasar di kawasan.

Posisi geografis yang strategis di jalur perdagangan internasional serta kekayaan potensi energi baru terbarukan (EBT) menjadi daya tarik utama.
“Dengan keunggulan tersebut, Indonesia berpotensi menjadi hub hidrogen dan amonia di kawasan Asia Pasifik,” tutur dia.
Langkah masif ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemanfaatan EBT secara besar-besaran di tanah air.
Dekarbonisasi Sektor yang Sulit Terjamah
Saat ini, konsumsi hidrogen di dalam negeri mencapai 1,75 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatannya masih didominasi oleh industri pupuk sebesar 88%, amonia 4%, dan kilang minyak 2%.
Ke depan, pemerintah akan mengarahkan penggunaan hidrogen ke sektor-sektor yang sulit dikurangi emisinya (hard-to-abate sectors).
Sektor tersebut meliputi transportasi jarak jauh, pelayaran, penerbangan, produksi baja, serta pemanasan industri manufaktur.
Melalui gelaran GHES 2026, pemerintah berharap koordinasi antara regulator dan industri semakin kuat guna mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan ini.

