DASWATI.ID – Perjuangan tanpa lelah Tim SAR Gabungan dalam misi kemanusiaan mencari delapan anak buah kapal (ABK) KM Maulana-30 yang hilang kini memasuki hari kelima operasi, Rabu (24/12/2025).
Tim terus berupaya menembus batas tantangan alam demi menemukan titik terang keberadaan para korban yang dilaporkan hilang setelah kapal mereka terbakar di perairan selatan Belimbing, Provinsi Lampung pada Sabtu (20/12/2025).
Perluasan Radius Pencarian yang Signifikan
Berdasarkan perhitungan teknis SAR Map Prediction yang mempertimbangkan pergerakan arus dan arah angin, tim memutuskan untuk memperluas area pencarian secara drastis hingga mencakup lebih dari 7.700 mil laut persegi.
“Pada hari kelima ini, kami memperluas area pencarian secara signifikan berdasarkan prediksi pergerakan korban,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung, Deden Ridwansah, Rabu (24/12/2025).
Jangkauan operasi kini tidak lagi terbatas pada titik awal kejadian, melainkan telah menyisir wilayah strategis mulai dari perairan Ujung Kulon, Pulau Panaitan, hingga area di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK).
Sebelumnya, fokus penyisiran juga meliputi wilayah Teluk Sumatera, perairan Tanjung Cina, hingga kawasan konservasi Tambling.

Sinergi dan Pengerahan Kekuatan Penuh
Operasi ini merupakan bentuk nyata sinergi lintas instansi yang melibatkan Basarnas Lampung, TNI AL, Polairud, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pushidrosal (Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut), serta relawan dari Tambling Wildlife Nature Conservation (TNWC).
Kekuatan penuh dikerahkan melalui dua jalur utama:
- Jalur Udara: Pesawat ATR 62-500 milik KKP telah melakukan penyisiran intensif selama empat jam pada ketinggian 500 kaki untuk mendapatkan jarak pandang yang lebih luas dari atas permukaan laut.
- Jalur Laut: Kapal utama KN SAR 224 Basudewa bersama dua kapal patroli TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon) menyisir perairan secara mendalam dari pagi hingga malam hari.
Baca Juga: Basarnas Kerahkan Pesawat Udara Cari 8 ABK KM Maulana-30
Tantangan Alam yang Berat
Deden Ridwansah mengungkapkan bahwa tim di lapangan harus berhadapan dengan kondisi alam yang sangat menantang.
Gelombang laut yang mencapai ketinggian 1-1,6 meter menjadi kendala utama yang menghambat efektivitas penyisiran.
“Seluruh unsur tetap berupaya maksimal meski kondisi cuaca masih cukup menantang,” ujar dia.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun pencarian dilakukan secara agresif, keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi ganasnya laut lepas.
Hingga Rabu sore, tanda-tanda keberadaan korban belum ditemukan.
“Tim SAR Gabungan untuk sementara bersandar di Pulau Sebesi guna mengevaluasi hasil penyisiran dan mempersiapkan strategi pencarian yang lebih optimal untuk hari berikutnya,” tutur Deden.
Operasi kemanusiaan ini tetap berjalan dengan harapan besar dapat memberikan kepastian bagi keluarga delapan ABK KM Maulana-30 yang tengah menanti kabar di daratan.
Insiden kebakaran KM Maulana-30 bermula saat Kapal berlayar dari Muara Angke pada Rabu (17/12/2025) dengan tujuan area penangkapan ikan (Fishing Ground) di wilayah WPP NRI 572 dan 573.

Namun, pada Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 WIB, kapal tersebut mengalami kebakaran hebat di perairan sekitar Selatan Belimbing, Tanggamus, Provinsi Lampung, pada Sabtu (20/12/2025) pagi pukul 03.15 WIB.
Peristiwa mencekam ini menimpa 33 ABK. Sebanyak 25 ABK berhasil diselamatkan dari maut, sementara delapan rekan mereka masih dinyatakan hilang.
Di antara mereka yang selamat terdapat sang nakhoda, Sulis Khoirih (36), dan kru termuda, Dena Bagas Aji (19) dari Bekasi.
Ke-25 korban selamat ini telah dibawa menuju Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta.
Baca Juga: Drama Evakuasi 25 ABK Maulana-30 Menuju Muara Baru Jakarta

