DASWATI.ID – Provinsi Lampung kini tengah menyiapkan langkah besar untuk mengubah wajah wilayahnya melalui rencana Aglomerasi Kawasan Metropolitan Bandar Lampung Raya.
DALAM ARTIKEL:
- Potensi Ekonomi dan Tantangan Tenaga Kerja
- Kemandirian Fiskal yang Perlu Digenjot
- Revolusi Infrastruktur dan Fasilitas Publik
Proyek ambisius ini bertujuan menyatukan kekuatan berbagai daerah guna menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang modern di pintu masuk Pulau Sumatra.
Baca Juga: 8 Desa Jati Agung Bergabung ke Bandar Lampung, Target Tuntas Setahun
Sinergi Tujuh Wilayah Penyangga
Rencana besar ini tidak hanya fokus pada satu titik, melainkan melibatkan tujuh kabupaten dan kota sekaligus.
Berdasarkan dokumen RKPD Provinsi Lampung Tahun 2026, wilayah yang masuk dalam lingkup metropolitan ini meliputi Kota Bandar Lampung, Kota Metro, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Pringsewu, dan Pesawaran.
Selaras dengan pembagian wilayah tersebut, pemerintah menetapkan Kota Bandar Lampung sebagai pusat inti (Pusat Kegiatan Nasional/PKN) yang dikelilingi oleh kota-kota penyangga dengan hierarki lebih kecil.
Pola ini mirip dengan konsep Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), di mana Jakarta menjadi inti yang didukung oleh wilayah sekitarnya tanpa menghapus batas administratif masing-masing daerah.
Potensi Ekonomi dan Tantangan Tenaga Kerja
Pengembangan ini berpijak pada data pertumbuhan nyata yang terjadi di lapangan.
Analisis tutupan lahan dari tahun 2010 hingga 2020 menunjukkan perkembangan pemukiman yang sangat pesat di titik-titik strategis seperti Natar, Jatiagung, hingga Gadingrejo.
Selain itu, daya dukung lahan di wilayah ini secara umum masuk dalam kategori tinggi, sehingga sangat siap untuk menampung pembangunan infrastruktur skala besar.
Namun, transisi menuju kawasan metropolitan modern masih menghadapi tantangan sumber daya manusia.
Saat ini, beberapa kecamatan memang sudah memenuhi kriteria metropolitan dengan proporsi tenaga kerja di bidang pertanian yang sudah di bawah 25%.
Di sisi lain, wilayah seperti Lampung Timur dan Metro masih didominasi oleh sektor pertanian, sehingga memerlukan penyesuaian strategi agar warga setempat bisa terserap ke sektor industri dan jasa.

Kemandirian Fiskal yang Perlu Digenjot
Dilihat dari sisi keuangan, terdapat ketimpangan kemampuan daerah yang perlu segera diatasi.
Saat ini, hanya Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Tengah yang memiliki kondisi fiskal kategori sedang hingga sangat tinggi.
Sebaliknya, wilayah lain seperti Pesawaran masih berada di posisi daerah relatif tertinggal yang minim dukungan SDM maupun SDA.
Lebih lanjut, seluruh wilayah dalam rencana metropolitan ini ternyata masih memiliki rasio kemandirian yang rendah.
Artinya, pemerintah daerah masih sangat bergantung pada kucuran dana dari pusat karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang belum maksimal.
Oleh karena itu, penguatan ekonomi lokal menjadi agenda mendesak agar visi metropolitan ini tidak sekadar menjadi beban anggaran.
Revolusi Infrastruktur dan Fasilitas Publik
Untuk mewujudkan visi sebagai pusat perdagangan, jasa, industri, dan pendidikan, pemerintah telah menyusun daftar prioritas pembangunan dalam lima tahun pertama.
Fokus utama terletak pada integrasi sarana prasarana, mulai dari revitalisasi pemukiman kumuh hingga peningkatan status jalan antar kota satelit menjadi jalan provinsi.
Selain jalan raya, pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, jaringan telekomunikasi, dan pengelolaan sampah akan dilakukan secara terpadu.
Pemerintah juga berkomitmen menjaga keseimbangan alam dengan menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan mengendalikan pencemaran lingkungan, terutama di wilayah pesisir Teluk Lampung.
Motor Penggerak di Gerbang Sumatra
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pada 28 Desember 2025 lalu menegaskan bahwa pembentukan kawasan ini merupakan keharusan akibat ledakan jumlah penduduk dan pesatnya aktivitas ekonomi.
Kehadiran proyek strategis seperti Bandara Radin Inten II, kampus Institut Teknologi Sumatra (Itera), Jalan Tol Trans Sumatra, hingga Kawasan Industri Katibung akan menjadi pilar utama penyokong Metropolitan Lampung Raya.
Sebagai penutup, melalui perencanaan yang matang, pembangunan diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri secara sporadis.
Dengan koordinasi yang kuat antar tujuh wilayah ini, Bandar Lampung Raya diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan di masa depan.

