DASWATI.ID – Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil evaluasi kinerja 17 bulan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk periode 15-21 Januari 2026 pada Minggu (8/2/2026).
Meski legitimasi Presiden sangat kuat dengan tingkat kepuasan mencapai 79,9%, publik memberikan catatan kritis yang tajam terkait potensi korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Survei INDIKATOR: TNI dan Presiden Lembaga Paling Dipercaya
Paradoks Kepercayaan pada Program Populis
Temuan survei mengungkap paradoks besar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di satu sisi, program ini sangat populer dengan tingkat kepuasan mencapai 72,8%.
Namun di sisi lain, mayoritas warga atau sebanyak 61,7% menyatakan kurang atau tidak percaya sama sekali bahwa pelaksanaan MBG akan bersih dari praktik korupsi.
Hanya 33,8% responden yang meyakini program ini akan berjalan tanpa kebocoran anggaran.
Hasil survei Indikator Politik mengingatkan bahwa jika potensi korupsi ini tidak segera dievaluasi, hal tersebut dapat memberikan dampak negatif yang sangat besar terhadap stabilitas politik nasional.
Legitimasi Kuat dan Kepercayaan Institusi
Secara keseluruhan, Presiden Prabowo berhasil mempertahankan dukungan publik yang masif. Angka kepuasan 79,9% tersebut terdiri dari 66,9% responden yang “cukup puas” dan 13,0% “sangat puas”.
Selain itu, tingkat kepercayaan terhadap institusi Kepresidenan mencapai 86%, menjadikannya salah satu lembaga negara paling dipercaya selain TNI.
Publik yang merasa puas (79,9%) mengemukakan enam alasan utama berikut:
- Pemberantasan korupsi (17,5%);
- Sering memberi bantuan (15,6%);
- Program kerja yang bagus (11,0%);
- Karakter tegas, berwibawa, dan berani (9,7%);
- Keberadaan program Makan Bergizi Gratis (8,4%);
- Sikap merakyat dan perhatian kepada rakyat (2,3%).
Baca Juga: 60% Warga Setuju Program Makan Bergizi Gratis Sasar Seluruh Anak

Akar Ketidakpuasan: Ekonomi dan Salah Sasaran
Di balik tingginya kepuasan, terdapat 19,3% warga yang merasa tidak puas (17,1% kurang puas dan 2,2% tidak puas sama sekali).
Alasan utama ketidakpuasan mereka di antaranya pemberian bantuan yang tidak tepat sasaran atau kurang merata (16,2%) serta belum adanya bukti kinerja nyata (15,8%).
Masalah ekonomi juga menjadi sorotan utama. Sebanyak 27,4% warga menilai pengendalian harga kebutuhan pokok adalah masalah paling mendesak.
Data Indikator menunjukkan 45,3% warga merasa harga-harga saat ini jauh lebih tidak terjangkau dibandingkan tahun lalu.
Selain itu, alasan lain ketidakpuasan adalah program belum maksimal (13,7%), ekonomi tidak stabil (9,2%), sulitnya lapangan kerja (5,8%), dan korupsi yang masih merajalela (4,4%).
Peta Demografi Pendukung Presiden
Dukungan terhadap Presiden menunjukkan pola variatif di berbagai segmen masyarakat:
Gender & Usia: Perempuan (81,9%) lebih puas dibanding laki-laki (77,9%). Generasi Z mencatat kepuasan tertinggi (86,3%), disusul Milenial (79,9%) [8];
Pendidikan & Lokasi: Warga di pedesaan (82,8%) lebih puas daripada di kota (77,0%). Kelompok pendidikan SD (81,0%) dan SLTP (82,7%) lebih puas dibanding lulusan kuliah (77,1%);
Etnis & Agama: Etnis Jawa (83,1%) dan Madura (82,9%) sangat positif, sedangkan etnis Minang (52,7%) dan Betawi (57,2%) paling rendah. Berdasarkan agama, penganut Islam mencatat kepuasan 79,4%, dengan basis NU di angka 82,7%.
Wilayah: Bali-Nusa Tenggara (89,2%) dan Jawa Tengah-DIY (83,8%) menjadi basis kepuasan tertinggi, sementara Jakarta mencatat angka terendah (53,0%).
Indikator Politik Indonesia menyimpulkan bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian ekstra pada stabilitas harga untuk menjaga daya beli serta memperketat pengawasan bantuan sosial guna menghindari kebocoran anggaran yang dapat mencederai kepercayaan publik.
Metodologi Survei
Survei ini dilakukan pada periode 15-21 Januari 2026 melibatkan 1.220 responden di seluruh provinsi Indonesia yang dipilih melalui metode multistage random sampling.
Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan margin of error sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Seluruh proses survei melewati kontrol kualitas acak sebesar 20 persen untuk menjamin akurasi data.
Baca Juga: Aroma Tak Sedap Dapur Bergizi

