DASWATI.ID – Kasat Pol PP Kota Bandar Lampung, Ahmad Nurizki Erwandi, mengungkapkan bahwa massa yang menggelar aksi demo di depan kantor pemerintah kota (pemkot) setempat teridentifikasi berasal dari luar kota.
“Yang melakukan demo teridentifikasi beralamat di luar Kota Bandar Lampung,” ujar dia dalam keterangannya pada Jumat (25/4/2025).
Aksi unjuk rasa di depan Kantor Pemkot Bandar Lampung telah berlangsung sejak Rabu, 23 April 2025.
Peserta aksi menuntut Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana segera mengambil langkah konkret mengatasi masalah banjir di Ibu Kota Provinsi Lampung yang kian mengancam keselamatan warga.
Kasat Pol PP Kota Bandar Lampung Nurizki menjelaskan Eva Dwiana berniat untuk menemui peserta aksi di Kantor Pemkot seusai kegiatan di Kecamatan Enggal.
Meski Eva Dwiana telah menunjukkan kesiapan untuk berdialog dan mendengar aspirasi mereka, rencana pertemuan batal setelah pendemo berdiskusi dan memutuskan untuk membubarkan diri.
“Tadi Bunda sudah mau bertemu mendengar aspirasi mereka. Tapi setelah mereka berdiskusi tiba-tiba batal, setelah itu mereka membubarkan diri,” jelas Nurizki.
Sementara itu, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana yang akrab disapa Bunda Eva, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan solusi konkret untuk mengatasi banjir.
“Setelah acara (di Enggal), Bunda mau ketemu dengan masyarakat yang melakukan aksi demo. Awal mula mau, tapi setelah mereka berdialog rencana untuk ketemuan dibatalkan,” tutur Eva Dwiana.

Ia menyampaikan Pemkot Bandar Lampung telah menyiapkan solusi penanganan banjir untuk disampaikan kepada massa aksi.
“Ini sudah Bunda siapkan paparan ketika mereka tanya solusi konkret penanganan bencana banjir. Mulai dari normalisasi saluran air, pembuatan embung, penertiban bangunan liar di atas sungai hingga penghijauan,” ujar Eva.
Aksi Unjuk Rasa Berlanjut 28 April
Salah satu peserta aksi, Kristin, membenarkan bahwa Pemkot Bandar Lampung menawarkan kesempatan bagi tiga perwakilan massa aksi bertemu Eva Dwiana di Ruang Rapat Wali Kota Bandar Lampung untuk mendengarkan paparan terkait penanganan bencana banjir.
Namun, tawaran tersebut ditolak karena pendemo menginginkan dialog terbuka di depan umum, bukan audiensi di dalam ruangan.
“Kami datang bukan untuk audiensi. Kami menuntut langkah konkret dari Wali Kota untuk mengatasi banjir yang terus berulang,” tegas Kristin.
”Kami tidak ingin duduk di ruangan ber-AC sementara korban banjir kehilangan nyawa, harta, bahkan rumah akibat bencana ini,” tambah dia.
Peserta aksi menginginkan Wali Kota Eva Dwiana turun menemui mereka dan berdiskusi di bawah terik matahari, dan menyampaikan solusi secara terbuka di hadapan publik.
“Aksi akan dilanjutkan pada Senin, 28 April 2025, untuk menekan pemkot agar memberikan resolusi nyata terhadap permasalahan banjir di Bandar Lampung,” tutup Kristin.
Baca Juga: Hujan Momok Warga Bandar Lampung

