Oleh: Mahendra Utama
DASWATI.ID – Siapa warga Bandar Lampung yang tidak pernah merasa jengah dengan kemacetan? Saban hari, terutama pada jam masuk dan pulang kantor, jalan-jalan protokol berubah menjadi lautan kendaraan yang merayap lambat.
Sebagai ibu kota Provinsi Lampung, kota ini memang tumbuh pesat, namun sayangnya pertumbuhan jumlah kendaraan belum diimbangi oleh perluasan jalan yang memadai.
Akibatnya, kemacetan kini menjadi “menu harian” yang menguras energi dan waktu warga.
Rekayasa Manual: Solusi Instan yang Mulai Terengah
Baru-baru ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandar Lampung melakukan rekayasa lalu lintas di U-Turn Koga.
Baca Juga: Dishub Bandar Lampung Rekayasa Lalu Lintas di U-Turn Koga
Langkah responsif ini patut kita apresiasi sebagai bentuk nyata kehadiran Pemerintah Kota (Pemkot) dalam menjawab keluhan publik.
Penutupan atau pengalihan titik putar balik memang efektif mengurangi titik konflik arus kendaraan secara instan untuk jangka pendek.
Namun, kita harus jujur bahwa pendekatan manual ini memiliki keterbatasan mendasar.
Keputusan yang diambil sering kali masih bersandar pada pengamatan lapangan yang sifatnya subjektif.
Padahal, pola kemacetan di kota besar sangat dinamis, berubah dari hari ke hari, bahkan dari jam ke jam.
Mengandalkan insting petugas di lapangan tanpa dukungan data yang presisi tentu sulit diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi mobilitas kota yang semakin kompleks.
Data sebagai Panglima: AI sebagai Game Changer
Di tengah gempuran era digital, sudah saatnya Bandar Lampung melirik teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai instrumen utama pengurai macet.
Melalui Intelligent Transportation Systems (ITS), AI mampu mengintegrasikan data real-time dari kamera CCTV, sensor kendaraan, hingga data GPS dari ponsel pintar kita.
Data ini kemudian diolah untuk memprediksi pola lalu lintas dengan akurasi tinggi.
AI bukan lagi sekadar tren masa depan, melainkan kebutuhan mendesak saat ini. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dapat memangkas waktu perjalanan rata-rata hingga 22,8 persen.
Selain itu, manajemen persimpangan yang dioptimalkan oleh AI mampu mengurangi waktu tunggu kendaraan sebesar 25 hingga 30 persen. Teknologi ini memberikan presisi yang tidak dimiliki oleh pengamatan manual manusia.
Belajar dari Kesuksesan Global dan Lokal
Kita tidak perlu jauh-jauh mencari bukti. Di Indonesia, Kota Batam telah menerapkan sistem navigasi cerdas berbasis AI yang terbukti meningkatkan akurasi prediksi rute hingga 91,3 persen.
Jakarta juga telah menggunakan Area Traffic Control System (ATCS) berbasis AI untuk mengatur lampu lalu lintas di puluhan persimpangan.
Secara global, Singapura memanfaatkan machine learning untuk memprediksi lonjakan lalu lintas, sementara Pittsburgh di Amerika Serikat berhasil menurunkan waktu tunggu hingga 30 persen melalui sistem Surtrac.
Keberhasilan kota-kota ini membuktikan bahwa AI adalah alat praktis yang sudah teruji, bukan sekadar konsep di atas kertas.
Investasi Strategis untuk Pertumbuhan Ekonomi
Pertanyaan krusialnya: mampukah Bandar Lampung mengadopsi teknologi ini? Saya yakin kita sangat mampu.
Memang, investasi awal sistem AI tidaklah kecil, namun biaya tersebut akan tertutup oleh efisiensi ekonomi jangka panjang.
Bayangkan berapa liter bahan bakar yang terbuang percuma dan berapa banyak waktu produktif warga yang hilang akibat kemacetan.
Laporan McKinsey menyebutkan bahwa AI mampu mengurangi waktu perjalanan hingga 20 persen di area perkotaan, yang secara langsung berdampak pada penghematan ekonomi.
Untuk mengatasi kendala literasi teknologi atau biaya, Pemkot dapat berkolaborasi dengan perguruan tinggi lokal seperti Universitas Lampung atau Institut Teknologi Sumatera, serta menggandeng perusahaan teknologi nasional.
Kita memiliki sumber daya manusia muda yang mumpuni untuk dilibatkan dalam membangun ekosistem kota cerdas ini.
Menuju Kota Cerdas di Sumatera
Langkah rekayasa lalu lintas konvensional yang telah dimulai oleh Wali Kota dan Dishub adalah fondasi yang baik.
Namun, sekarang saatnya kita melangkah lebih jauh. Kita harus berani mengintegrasikan teknologi agar setiap kebijakan tidak lagi hanya berdasarkan insting, melainkan data yang akurat.
Adopsi AI bisa dimulai melalui proyek percontohan di titik-titik paling rawan macet, seperti kawasan Koga.
Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, saya optimis Bandar Lampung dapat bertransformasi menjadi model kota cerdas di Sumatera.
Mari kita jadikan tantangan kemacetan ini sebagai pemantik inovasi demi kenyamanan warga dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (*)
*Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, serta Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis.

