DASWATI.ID – NTP Lampung Maret 2026 turun 1,49% menjadi 124,92. Kenaikan biaya transportasi dan bensin menekan daya beli petani meski sektor perikanan tetap tumbuh positif.
Kesejahteraan petani di Lampung kini tengah menghadapi tantangan serius akibat tekanan harga global dan biaya logistik.
Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada Maret 2026 tercatat sebesar 124,92, atau turun 1,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ini mengindikasikan adanya penyusutan daya beli petani karena kenaikan biaya hidup tidak sebanding dengan pendapatan dari hasil panen.
Beban Ganda Petani
Petani kini terjepit di antara dua kondisi yang kurang menguntungkan.
Laporan BPS Provinsi Lampung menyebutkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) melemah 1,08 persen menjadi 159,26, yang berarti harga jual hasil produksi mereka sedang lesu.
Sebaliknya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru membengkak 0,41 persen mencapai angka 127,49.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa petani harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk kebutuhan dasar saat pendapatan mereka justru berkurang.
Biaya Transportasi dan Pangan Meningkat

Kenaikan tarif angkutan luar kota dan harga bensin menjadi faktor utama yang membebani kantong petani.
Selain biaya transportasi, harga kebutuhan pokok seperti beras, jeruk, dan telur ayam ras juga merangkak naik.
Di sisi lain, komoditas unggulan seperti kakao, cabai merah, dan kopi justru mengalami penurunan harga jual di pasar, sehingga semakin menekan nilai tukar yang diterima petani.
Kinerja Sektoral yang Beragam
Subsektor Hortikultura dan Tanaman Perkebunan Rakyat mengalami hantaman paling keras.
NTP Hortikultura merosot tajam 4,16 persen, disusul Tanaman Perkebunan Rakyat yang turun 3,28 persen.
Meski demikian, harapan muncul dari subsektor Perikanan Budidaya yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,75 persen, diikuti Peternakan yang tumbuh 1,97 persen dan Perikanan Tangkap sebesar 1,58 persen.
Sektor Tanaman Pangan juga masih bertahan dengan kenaikan tipis 0,31 persen.
Optimisme di Tengah Tekanan
Meskipun angka keseluruhan menunjukkan penurunan, BPS Lampung melihat adanya ketangguhan pada sebagian besar subsektor pertanian.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel Adie Prakasa, memberikan catatannya mengenai kondisi ini.
“Meskipun NTP bulan Maret 2026 mengalami tekanan dari sisi harga komoditas perkebunan dan hortikultura, sebagian besar subsektor pertanian Provinsi Lampung masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif,” ungkap dia.
Hal ini mencerminkan daya tahan kuat petani pangan, peternakan, dan perikanan dalam menghadapi dinamika harga di awal kuartal kedua tahun 2026.




