Potret Ketahanan dan Identitas Bangsa dalam Puisi Mahendra Utama untuk Andre Abdullah

oleh
Potret Ketahanan dan Identitas Bangsa dalam Puisi Mahendra Utama untuk Andre Abdullah
Ketua DPLN Partai Gerindra Australia, H. Andre Abdullah, P.hD. Ilustrasi: Arsip Pribadi

DASWATI.ID – Puisi “Serat Tanah dan Rasa: Untuk Andre Abdullah” karya Mahendra Utama adalah sebuah cerminan mendalam tentang potret ketahanan dan identitas bangsa Indonesia.

Melalui perbandingan kontras antara Jombang dan Sidoarjo, puisi ini tidak hanya melukiskan lanskap geografis, tetapi juga menanamkan pesan penting tentang jati diri dan semangat pantang menyerah yang harus diemban.

Bagian awal puisi membawa kita ke Jombang, yang digambarkan sebagai jantung spiritual dan kultural yang damai, sebuah representasi kuat dari identitas asli Indonesia.

Di sini, “pesantren bertaut doa” dan “Sungai Brantas mengalun kisah lama,” melambangkan akar tradisi, nilai-nilai spiritual, dan sejarah panjang bangsa.

Kuliner lokal seperti nasi pecel dan sate kambing disebut “dibumbui cinta yang hangat dan santun,” menegaskan keramahan dan kehangatan budaya Indonesia.

Keberadaan air terjun Tretes yang “mengundang jiwa yang rindu akan selawat” semakin menguatkan dimensi spiritual ini.

Jombang dalam puisi ini adalah penjaga memori kolektif dan identitas kebangsaan yang kaya akan nilai dan kearifan lokal.

Kontras dengan Jombang, narasi puisi beralih ke Sidoarjo, sebuah wilayah yang melambangkan ketahanan dan kemampuan adaptasi bangsa di tengah modernisasi dan tantangan.

Di balik “pabrik-pabrik menjulang” dan “cerobong asap,” serta “denyut keringat manusia,” terpancar semangat juang yang tak padam. Meskipun dilanda “Lumpur Lapindo menggenang pilu,” masyarakatnya “tetap berbuat”.

Keberadaan sate kerang, kerupuk udang, dan bandeng presto yang tetap digoreng harum di tengah nestapa adalah simbol kuat “melawan nestapa dengan keberanian yang tumprung”.

Sidoarjo merepresentasikan sisi Indonesia yang gigih, mampu bertahan, dan menemukan kekuatan di tengah kesulitan.

Inti pesan puisi ini adalah amanah yang diemban kepada Andre Abdullah “sang pengembara di Benua Selatan (Australia)”.

Ia diharapkan tidak hanya membawa kisah Jombang yang damai dan Sidoarjo yang berjuang, tetapi juga “puisi rasa: bakti dan harapan” dari kedua daerah tersebut.

Ini adalah panggilan untuk menjaga dan menyebarkan esensi identitas dan ketahanan bangsa ke “cakrawala yang lebih jauh”.

Andre menjadi representasi setiap individu Indonesia yang berinteraksi dengan dunia luar, membawa serta nilai-nilai luhur dari Tanah Air-nya.

Pada akhirnya, “Serat Tanah dan Rasa: Untuk Andre Abdullah” adalah sebuah pengingat kuat bahwa di mana pun “bumi dipijak, Indonesia tetap dikenang”.

Puisi Mahendra Utama ini berhasil merangkai potret multidimensional bangsa–dari kekayaan spiritual dan budaya hingga ketahanan dalam menghadapi cobaan–menjadi sebuah seruan untuk selalu menjaga dan memuliakan identitas serta semangat juang sebagai bagian tak terpisahkan dari jati diri kebangsaan.

Serat Tanah dan Rasa: Untuk Andre Abdullah

Karya: Mahendra Utama

Di Jombang, senja menyapu lereng gunung,

Pesantren bertaut doa, langit pun biru terunggu;

Sungai Brantas mengalun kisah lama,

Di setiap liku, nasi pecel menari dalam daun pisang.

Sate kambing merekah di angkringan,

Dibumbui cinta yang hangat dan santun;

Air terjun Tretes berbisik lembut,

Mengundang jiwa yang rindu akan selawat.

Namun tak jauh, di Sidoarjo yang berdebu,

Pabrik-pabrik menjulang, menggapai awan kelabu;

Sate kerang dan kerupuk udang tetap bertahan,

Di antara cerobong asap dan denyut keringat manusia.

Lumpur Lapindo menggenang pilu,

Tapi getok tularkan tangan tetap berbuat;

Bandeng presto tetap digoreng harum,

Melawan nestapa dengan keberanian yang tumprung.

Wahai Andre, sang pengembara di Benua Selatan,

Bawalah suara tanah ini ke cakrawala yang lebih jauh;

Dari Jombang yang damai, Sidoarjo yang berjuang,

Kami persembahkan puisi rasa: bakti dan harapan.

Semoga langkahmu selalu dijaga langit,

Di mana pun bumi dipijak, Indonesia tetap dikenang.

(Kelapa Gading, 21 Agustus 2025)

__________________________________________________

Profil Mahendra Utama 

Eksponen Aktivis 98, Mahendra Utama, lahir di Bandar Lampung pada tanggal 12 Desember 1974.

Saat ini ia menduduki beberapa posisi strategis, antara lain sebagai Pendiri PT KSWD Lampung, Pendiri PT SLDU Lampung, Komisaris Utama PT DMKB Sumatera Utara, dan CEO PT Solusi Aksara Graphics Unggul.

Selain itu, ia juga memiliki pengalaman karier profesional lainnya seperti Konsultan Media Massa, Tenaga Ahli Gubernur Lampung bidang Hukum & Pemerintahan, Sekretaris Khusus Gubernur Lampung, serta fasilitator di berbagai bidang.

Ia diangkat sebagai Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak tanggal 5 Juli 2023 berdasarkan Surat Keputusan nomor XX-SURKP/23.036 dan 004/DE-KML/VII/23. Pendidikan terakhirnya adalah Sarjana Hukum dari Universitas Tulang Bawang, Lampung.

Baca Juga: Puisi-puisi Mahendra Utama: Refleksi Perjuangan, Diplomasi, dan Cinta Tanah Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *